Maitreyawira Imlek Fair 2018 Hadirkan Opera Klasik Tiongkok

0
197

 

 

RADAR PALEMBANG – Menyambut tahun baru Imlek 2569 sekolah Maitreyawira menggelar Maitreyawira Imlek Fair 2018 pada 2-4 Februari lalu di Sekolah Maitreyawira di Jalan Patal Pusri Lorong Lebak Sebatok Palembang. Regen Panitia pelaksana mengatakan, kegiatan Maitreyawira Imlek Fair 2018 meliputi performa Seni Budaya Nuansa Imlek, atraksi barongsai dan wushu, angpau berkah dewa rezeki, pohon angpau berhadiah, aneka lomba, photoboth Imlek dan kuliner sehat nabati. “Selain itu ada juga bazaar Imlek,”katanya.

Regen juga mengatakan, puncak acara Minggu (4/2) menghadirkan opera klasik Tiongkok Sam Khau  Bun  Gei Siah yang mengkisahkan tentang setia dan bakti kepada negara.

“Kisah ini terjadi di masa Dinasti Song tentang  kasih dan didikan orang tua yg membuat anaknya sukses menjadi jenderal yang setia dan berbakti kepada negara,”katanya.

Sementara itu, Acit ketua wayang Tionghoa Sam Khau  Bun  Gei Siah menceritakan kalau wayangnya mempunyai sekitar 200 naskah cerita, dari 200 naskah cerita tersebut yang paling sulit untuk dipentaskan adalah kisah perang. Apa alasannya? Menurut Acit, karena kisah perang membutuhkan SDM yang banyak mulai dari para prajurit hingga tokoh utama. “Selain itu dalam kisah perang membutuhkan panggung yang besar beda dengan kisah-kisah. Jadi kalau panggungnya kecil otomatis tidak bisa menampilkan kisah perang,”ucapnya.

Menurut Acit, peralatan untuk tampil yang dimiliki oleh Grup Wayang Tionghoa Sam Khau Bun Gie Siah termasuk lengkap. “Sebagian besar peralatan tersebut dibeli langsung dari Cina, jadi kalau topeng Kera Sakti atau Fat kay terlihat mirip sekali,”terangnya.

Acit juga mengungkapkan, kalau kelenteng Peng Hun Teng ini merupakan tempat mereka rutin latihan “Jumlah anggota wayang Tionghoa kita mencapai 60 orang yang sebagian merupakan para remaja Dan kita biasa latihan di kelenteng ini,”ucapnya.

Acit menambahkan, dalam penampilan satu tahun terakhir ini Group Wayang Tionghoa Sam Khau Bun Gie Siah selalu menampilkan monitor digital untuk menterjemahkan kata-kata Mandarin yang ditampilkan. “Jadi tidak hanya warga keturunan Tionghoa yang bisa memahami lakon yang kita tampilkan tapi warga pribumi juga bisa,”jelasnya. (sep)

 

LEAVE A REPLY