LRT Kini Cenderung Jadi Kereta Wisata

0
546

 

 

+ Menyusur Moda Angkutan Kebanggaan Palembang

 

 

 

RADAR PALEMBANG, Kota  Palembang belakangan terus menunjukkan perkembanganya. Salah satunya, karena di kota pempek saat ini ada moda transportasi massal Light Rail Transit (LRT) atau kereta ringan. Menariknya, moda transportasi canggih tersebut merupakan yang pertama kalinya ada di Indonesia. Seperti apa perkembangannya?

W Pratama – PALEMBANG

 

Nama Palembang semakin meroket berkat kesuksesanya menjadi salah satu tuan rumah even olahraga bangsa-bangsa di Asia yakni Asian Games 2018 pasa Agustus lalu. Kesuksesan itu, tidak terlepas dari adanya moda angkutan LRT.

Memang, salah satu tujuan LRT di bangun di Palembang awalnya untuk menunjang kelancaran transportasi atlet dan official saat gelaran Asian Games lalu. Kini, tak mau kalah masyarakat yang penasaran pun ramai-ramai ingin mencoba moda transportasi modern tersebut.

Apalagi, saat pertama dibuka untuk umum masyarakat tidak dikenakan biaya alias gratis, tentu hal itu menambah antusias masyarakat untuk mencoba sekedar keliling Palembang dengan LRT.

Sementara, tidak dikenakanya biaya saat operasional pertama LRT itu sebagai bentuk sosialisasi yang dilakukan pemerintah untuk memperkenalkan fasilitas LRT kepada masyarakat. Sekaligus juga bertujuan untuk mengajak masyarakat secara bertahap beralih menggunakan transportasi umum hingga dapat mengurangi volume kendaraan pribadi.

Ternyata, hal tersebut cukup berhasil. Meski saat ini untuk naik LRT dikenakan biaya Rp 5-10 ribu, namun jumlah penumpang yang naik tercatat cukup tinggi. Padahal, dari total 8 trainset LRT yang ada baru separuhnya yang dioperasionalkan dan stasiun yang beroperasional juga belum seluruhnya.

Hal ini diakui Humas PT KAI Divre III Palembang, Aida Suryati. Menurutnya, sejak 6 Oktober 2018 lalu, stasiun LRT yang beroperasi bertambah 1 lagi dengan beroperasinya stasiun Demang yang siap untuk melayani naik dan turun penumpang.

Stasiun Demang merupakan stasiun ke 12 yang  beroperasi dan tinggal stasiun Garuda Dempo yang belum beroperasi karena masih dalam tahap penyelesaian akhir.

Stasiun yang direncanakan untuk naik turun penumpang yaitu stasiun Djka-Jakabaring-Polresta- Ampera-Cinde-Dishub- Bumi Sriwijaya-Demang’ Punti Kayu – RSUD – Asrama Haji-Bandara, akan memberikan lebih banyak pilihan pemberhentian bagi masyarakat yang menggunakan LRT, tinggal 1 stasiun yang belum siap. “Diharapkan sebelum akhir tahun ini 13 stasiun LRT  semua nya beroperasi,” kata Aida.

Sejak dioperasikan tgl 23 Juli 2018 lalu, lanjutnya, masyarakat cukup antusias menggunakan LRT. Tercatat hingga 9 Oktober 2018 sudah 493.748 penumpang yang menggunakan LRT sebagai sarana transportasi.

“Kedepan diharapkan dengan adanya LRT Sumsel ini akan memberikan alternatif transportasi bagi masyarakat dalam beraktifitas sehari-hari sehingga dapat mengurangi beban kemacetan dan polusi akibat banyak nya kendaraan bermotor di jalan raya,” katanya.

Lebih lanjut Aida menambahkan kehadiran LRT Sumsel ini dapat menjadi gaya hidup baru, secara bertahap mulai meninggalkan kendaraan pribadi dengan memilih transportasi publik dan dapat menjadikan stasiun LRT sebagai alternatif tempat bertemu / “point meeting” dengan relasi kerja,teman maupun keluarga karena lokasi stasiun LRT yang sangat strategis di wilayah kota Palembang.

Menurutnya, memang saat ini LRT beluk menjadi sarana transportasi pilihan. Hal itu terlihat dari rata-rata jumlah penumpang perhari. Dimana saat hari biasa jumlahnya berkisar 3 ribuan, namun ketika di akhir pekan akan melonjak hingga 8-10 ribu per hari. “Sejauh ini kami mepihat ada 2 kelompok penumpang, ada yang memang menggunakan LRT sebagai sarana transportasi, dan ada juga yang untuk berwisata edukasi,” katanya.

Disisi lain, tingkat cukup antusiasnya masyarakat tersebut juga didorong dengan tarif yang relatif masih terjangkau. Hal itu dikarenakan LRT masih mendapatkan subsidi operasional dari pemerintah, sehingga belum dikenakan tarif normal.

Dikemukakan PPK LRT Sumsel, Suranto, seperti yang diungkapkan oleh Menteri Perhubungan RI, Budi Karya beberapa waktu lalu, LRT Sumsel ditargetkan mendapatkan suntikan subsidi Rp 200-300 miliar untuk tiga tahun sebagai sarana transportasi perintis. Setelahnya baru akan dikenakan tarif normal.

Dia menjelaskan, saat ini pemerintah memberikan subsidi berupa tarif perintis untuk tiket LRT senilai Rp5.000 antarstasiun dan Rp10.000 dari Bandara SMB II ke Jakabaring. “Kita subsidi dulu dan sepertinya dalam kurun 3 tahun sudah bisa tercover karena ada pendapatan operasional lain dari stasiun,” katanya.

Tarif tiket LRT Palembang jika tidak disubsidi bisa mencapai dua kali lipat, yakni Rp10.000 untuk jarak dekat dan Rp20.000 untuk jarak Bandara-Jakabaring.  Pemberian subsidi tersebut untuk merangsang masyarakat agar mau menggunakan moda transportasi anyar dengan tarif terjangkau. Pasalnya, angkutan modern tersebut menawarkan gaya hidup dan budaya baru bagi masyarakat Kota Palembang.  “Oleh karena itu kami membuat konsep untuk memasyarakatkan LRT dengan slogan ‘Payo Naek LRT’, yang artinya ajakan untuk menggunakan LRT sebagai angkutan massal,” katanya.(*)

 

 

LEAVE A REPLY