Lahat Siap Jadi Pemasok Energi Nasional

0
839

RADAR PALEMBANG – Sumberdaya energi ibarat sumber makanan bagi tubuh. Kecukupan atau keberlimpahan energi, sama halnya dengan adanya kecukupan asupan makanan bagi tubuh, sehingga tubuh bisa bergerak normal, sehat dan leluasa. Sebaliknya, kelangkaan energi membuat tubuh tidak bisa bergerak secara sehat.
Begitu juga dengan kehidupan masyarakat, kecukupan energi yang didistribusikan secara merata, membuat masyarakat bergerak, menjalankan aktivitas sehari-hari secara lebih sehat dan leluasa. Dan salah salah satu energi yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat adalah energi listrik sebagai penggerak aktivitas masyarakat.
Untuk itu, dibutuhkan energi yang cukup untuk menggerakkan aktivitas – dan pada gilirannya – ekonomi masyarakat. Energi seyogyanya dapat dipenuhi sendiri oleh suatu daerah sehingga tercipta apa yang disebut kemandirian energi. Kemandirian energi memungkinkan terpenuhinya kebutuhan penduduk akan energi secara lebih mudah dan murah.
Dalam upaya mewujudkan kemandirian energi ini, Pemerintah Kabupaten Lahat di bawah kepemimpinan Bupati Saifudin Aswari Rivai, telah tampil dan berperan signifikan dalam menjawab persoalan dan kebutuhan energi listrik bagi masyarakatnya.
Kemandirian energi di Kabupaten Lahat didukung dengan kondisi alam yakni melimpahnya ketersediaan batu bara sehingga PLTU menjadi solusi untuk menyuplai listrik.
“Saat ini terdapat dua PLTU di Kabupaten Lahat yaitu PLTU Banjarsari (kapasitas 2x110MW) & PLTU Keban Agung (2x135MW). PLTU ini disiapkan untuk kapasitas hingga 4x135MW untuk mengaliri listrik tidak hanya di Kabupaten Lahat, Sumatra Selatan, melainkan hingga ke Provinsi Jambi dan Bengkulu,” kata Aswari.
Di awal-awal kepemimpinan Aswari di Kabupaten Lahat, tercatat bahwa wilayah Lahat yang terdiri dari 367 desa, baru 40% yang teraliri listrik. Melihat fakta ini, ia lalu membuat program kerja yang lebih mengutamakan kebutuhan dasar masyarakat Lahat, yaitu adanya aliran listrik yang merata hingga tingkat desa. Hal ini sejalan dengan program, visi, dan misi pembangunan pemerintah nasional, yaitu surplus energi dalam w
Program pemerintah pusat ini didukung oleh jajaran pemerintah kabupaten Lahat. Salah satunya adalah prioritas pembangunan pusat pusat pembangkit listrik baru dengan potensi terbarukan, mulai dari gas alam ataupun batubara. ”Selain PLTU, di ahat juga ada PLTA yang sudah berproduksi selama 1 tahun, dan telah mengaliri 15.000 sambungan listrik ke rumah-rumah penduduk di Kota Agung, Lahat,” imbuh Aswari Rivai.
Kini, 99% wilayah Lahat telah teraliri listrik. Sebagai suatu wilayah, Kabupaten Lahat pada dasarnya turut memberi kontribusi dalam mewujudkan kemandirian energi nasional.
Maka bisa dipahami, jika publik – setidaknya dari kacamata media – sangat mengapresiasi pencapaian di bidang energi. Publik media misalnya, mengapresiasi pencapaian Pemkab Lahat di bidang energi dengan 187 berita dalam 6 bulan terakhir. Ini sebuah apresiasi pemberitaan yang relatif tinggi untuk ukuran wilayah yang jauh dari pusat pemberitaan (Jakarta).
Puncak dari apresiasi pencapaian Pemkab Lahat ini, ketika Bupati Aswari Rivai mendapatkan penghargaan Bintang Jasa Utama dari Presiden Joko Widodo, 15 Agustus 2016 lalu. Penghargaan ini bukan sekadar tanda terima kasih dari seorang presiden, melainkan tanda pembuktian dari hasil kerja konkret seorang bupati dalam menyediakan kebutuhan energi masyarakatnya secara memadai. Publik (media) menyoroti penghargaan ini sebagai penghargaan yang penting dan pantas diberikan kepada Aswari Rivai. Kalangan media pun memberikan apresiasi 25,7% dari 187 berita mengenai kemandirian energi di Kabupaten Lahat.
Dengan pencapaian yang sekarang ini, tidak berlebihan jika Aswari Rivai sebagai bupati memberikan pernyataan bahwa Lahat siap menjadi salah satu pemasok energi nasional.(rel)

LEAVE A REPLY