Kreasi Ekonomi Domestik Tepis Krisis

0
230
Hari Widodo Kepala Perwakilan BI Provinsi Sumsel

RADAR PALEMBANG – Pandemi Covid-19 telah menjatuhkan perekonomian banyak negara. Bahkan beberapa negara telah masuk ke jurang resesi. Terbaru adalah Amerika Serikat, akhir Juli lalu resmi menyatakan resesi.

Lalu, bagaimana dengan Sumatera Selatan? Setidaknya ada 2 hal penting harus dilakukan di tengah pandemi Covid 19 untuk membangkitkan ekonomi. Pertama, mengkreasi pasar sendiri, dan kedua konsumsi barang diutamakan pasar domestik dengan keunggulan penduduknya yang besar.

Kepada Radar Palembang, Kepala Bank Indonesia (BI) Palembang, Hari Widodo mengatakan dengan pertumbuhan ekonomi yang turun tajam, sebenarnya turun ini, kita sedang krisis.

Tapi, lanjut Hari, krisisnya beda dengan krisis ekonomi di 2008 lebih banyak dipicu krisis keuangan, katakanlah di Amerika (Amerika Serikat 2008,read) ada subprime mortgage, tapi inikan lebih dikarenakan krisis kemanusiaan karena kesehatan karena pandemi.

Kemudian, sambung dia, karena pandemi inikan mempengaruhi semua aspek, kita tidak bisa memisahkan manusia sebagai pelaku ekonomi dan mahluk sosial, ada kebijakan untuk menyelamatkan manusiannya dari sisi kesehatan kemudian ada ekonomi terdampak.

“Kemudian dikeluarkan kebijakan pemulihan ekonomi nasional tapi memang krisis ini, dampaknya sangat luas. Tentunya pemerintah sudah memiliki skema pemilihan ekonomi nasional dan tentu pemulihan ekonomi nasional itu akan dilakukan dengan sangat disiplin,”kata dia.

Ia menambahkan, kita lihat ada stimulus fiskal, ada jaringan pengaman sosial, Kementerian keuangan sudah memotret bagaimana alokasi fiskal di tingkat pusat kemudian nanti implementasinya sampai di regional.

Kalau Kita lihat, apakah itu provinsi, pemeritah kota sudah melakukan realokasi fiskal untuk mengurangi dampak pandemic ini, artinya kebijakan itu sudah turun. “Part ini adalah bagian penting tadi, bagaimana menyematkan manusia dari sisi kesehatannya dan pemulihan ekonominya ini secara bersamaan dan harus berjalan.”

Terkait apakah akan ada pemulihan ekonomi ? Hari menegaskan itu memerlukan waktu, kita ingin mendorong ekspor tapi kalau pasar diluarnya belum pulih (tujuan ekspor,read) juga tidak bisa, begitu juga meningkatkan kualitas daya saing, kalau demand (permintaan,read) belum sembuh, bagaimana?.

Apalagi, lanjut dia, kecenderungan dunia kebiajakan melihat ke dalam, kalau dari Amerika (AS,read) dengan slogannya American Forces mulai mementingkan ekonominya sendiri sendiri, oleh karena itu kekuatan, domestic menjadi penting, bagaimana meng-create ekonomi domestik.

Nah, kata Hari, kita beruntung karena memiliki pendudukan besar yang melakukan konsumsi sehingga kita tidak melakukan ekspor pun, elaborasi kekuatan domestik akan menopang ekonomi. “Demand ini dipenuhi dari barang-barang dalam negeri, sehingga tidak terganggu barang-barang ekspor.”

Jadi, selama ini, kebutuhan akan produk impor harus dipikirkan mencari solusinya untuk dalam negeri. Begitu juga, kegiatan ekspor, bagaimana barang produksi dalam negeri diserap juga pasar dalam negeri.

“Gula pasir bisa produksi sendiri,

Kala punya uangpun dengan kondisi pandemi ini, kita tidak bisa impor langsung karena ketika negara tujuan ekspor juga lockdown jadi tidak bisa mengirim atau menerima kiriman barang,”ujar dia.

Ekonomi Provinsi Sumatra Selatan triwulan II-2020 mengalami kontraksi sebesar 1,37 persen (y-on-y). Dari sisi produksi, penurunan terbesar terjadi pada Lapangan Usaha Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum sebesar 18,26 persen.

“Dari sisi Pengeluaran, kontraksi tertinggi terjadi pada Komponen Ekspor Luar Negeri yaitu sebesar 21,19 persen,”kata Kepala BPS Sumsel, Endang Triwahyuningsih, Kamis (6/8).

Ia menambahkan, Bila dilihat dari penciptaan sumber pertumbuhan ekonomi Provinsi Sumatra Selatan

triwulan II-2020 (y-on-y), Komponen Ekspor Luar Negeri merupakan komponen dengan sumber pertumbuhan yang mengalami kontraksi tertinggi, yakni sebesar 4,17 persen, diikuti Komponen PK-RT terkontraksi sebesar 4,05 persen.

Sementara sumber pertumbuhan ekonomi Provinsi Sumatra Selatan dari komponen lainnya tumbuh sebesar 6,85 persen. Ekonomi Provinsi Sumatra Selatan triwulan II-2020 terhadap triwulan sebelumnya mengalami kontraksi sebesar 2,30 persen (q-to-q).

“Dari sisi produksi, penurunan

terbesar disebabkan oleh kontraksi pada Lapangan Usaha Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum sebesar 22,19 persen. Sementara itu dari sisi Pengeluaran disebabkan oleh Komponen Ekspor Luar Negeri yang mengalami kontraksi sebesar 13,34 persen,”kata dia.

Ekonomi Sumatra Selatan semester I-2020 dibanding semester I-2019 (c-to-c) tumbuh 1,75 persen. Pertumbuhan terjadi pada sebagian besar lapangan usaha. Pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Lapangan Usaha Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial sebesar 17,93

persen; diikuti Pengadaan Listrik dan Gas sebesar 12,34 persen; dan Informasi dan Komunikasi sebesar 10,86 persen. Sementara dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi selama semester I-2020 hanya dicapai oleh Komponen PMTB sebesar 1,88 persen, sedangkan komponen pengeluaran lainnya mengalami kontraksi.

Struktur ekonomi Provinsi Sumatra Selatan triwulan II-2020 didominasi oleh Lapangan Usaha Industri Pengolahan sebesar 20,20 persen; diikuti Lapangan Usaha Pertambangan dan Penggalian sebesar 19,00 persen serta Lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan sebesar 15,47 persen.

Sementara dari sisi pengeluaran, aktivitas permintaan akhir masih didominasi oleh Komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (PK-RT) yang mencakup lebih dari separuh PDRB Provinsi Sumatra Selatan. Komponen lainnya yang memiliki peranan besar terhadap PDRB secara berturut-turut adalah Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB); Ekspor Luar Negeri; dan Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PK-P); sedangkan peranan Komponen PK-LNPRT dan Perubahan Inventori relatif kecil.

Negara Besar Resesi

Seperti diberitakan sebelumnya, Perekonomian negeri Paman Sam tersebut negatif 32,9% pada periode April – Juni. Kontraksi ini jauh lebih tajam dari kuartal I yang tercatat minus 5%.

Lalu, Pemerintah Jerman mengonfirmasi ekonomi Negeri Panzer ini mengalami resesi. Negara ini kembali mencatat kontraksi pada ekonominya di kuartal-II 2020. Secara basis kuartalan (QtQ) ekonomi minus -10,1%. Sebelumnya di kuartal-I 2020, ekonomi minus 2,2%.

Hong Kong, Hantu resesi belum meninggalkan Hong Kong. Ekonomi kota di bawah China itu kembali mengalami kontraksi atau minus 9% di kuartal-II 2020 secara tahun ke tahun (YoY) dari data Rabu (29/7/2020).

Ini adalah kontraksi empat kuartal berturut-turut untuk pusat ekonomi global ini. Di mana aktivitas ekonomi sudah susut sejak pertengahan 2019, saat protes besar-besaran massa anti Beijing terjadi.

Singapura juga resmi resesi setelah perekonomiannya tertekan cukup dalam. Pengumuman ini disampaikan melalui Kementerian Perdagangan dan Industri (MTI) Singapura, Selasa (14/7/2020).

Secara kuartalan, ekonomi Singapura di kuartal II 2020 berkontraksi atau minus 41,2%. Sementara secara tahunan, PDB anjlok 12,6%. Ini melebihi survei sejumlah lembaga dan ekonom. Corona memukul keras ekonomi Singapura yang fokus pada perdagangan. (dav)

 

LEAVE A REPLY