KPR Terjepit Suku Bunga

0
806

 

RADAR PALEMBANG – Suku bunga tinggi yang terus terjadi hingga awal tahun ini menjadi momok menakutkan bagi bisnis properti. Pasalnya tren penjualan terus mengalami pemerosotan sejak semester pertama tahun lalu hingga saat ini.

Bank Indonesia kembali mempertahankan suku bunga acuan BI Rate pada awal tahun 2015. Evaluasi menyeluruh terhadap perkembangan ekonomi di 2014 dan prospek ekonomi 2015 dan 2016 menunjukkan bahwa kebijakan tersebut tetap konsisten dengan upaya untuk mengarahkan inflasi menuju ke sasaran 4±1% pada 2015 dan 2016, serta mendukung pengendalian defisit transaksi berjalan ke tingkat yang lebih sehat.

Kebijakan mempertahankan BI Rate ini berarti laju bisnis pembiayaan perbankan tetap berada pada posisi bunga tinggi. Hampir semua sektor pembiayaa di semua perbankan umum nasional dan BPD suku bunga berada di atas 10 persen, termasuk suku bunga kredit kepemilikan rumah (KPR).

Head Gallery PT Valbury Asia Securitas Surianto mengungkapkan, tingginya suku bunga kredit dikarenakan tingginya suku bunga simpanan di bank. Sebab mayarakat yang cenderung konsumtif masih menginginkan dana berkembang ketika disimpan di bank, begitu juga dengan perbankan, karena ingin mengejar dana mayarakat rela memberikan suku bunga yang diatas ketentuan lembaga penjamin simpanan, akibatnya tentu ketika mereka melemparkan kembali dana tersebut ke mayarakat harus dengan suku bunga lebih tinggi jika ingin mendapatkan keuntungan.

Ketika suku bunga tinggi, sektor kredit yang akan terancam serapannya tentu kredit konsumtif salah satunya KPR. Sebab dengan suku bunga tinggi daya jangkau mayarakat untuk akan kredit sangat berat, imbasnya tentu penjualan rumah akan mengalami penurunan. Para pelaku binis penjualan rumah khususnya rumah komersial dua tahun terakhir ini memang mengalami ujian berat. Ketika pemerintah menerapkan aturan mengenai Loan To Value (LTV) pada akhir tahun 2013, penjualan properti langsung drop.

Ketika perbankan mayarakat sudah mulai melakukan penyesuaian dengan aturan tersebut, perbankan dan konsumen calon pembeli rumah harus mendapat pil pahit lagi, sebab secara berlahan, BI mulai menaikkan suku bunga acuan dari 5,75 persen sekarang menjadi 7,75 persen. Akibatnya mayoritas perbankan mematok suku bunga KPR diatas 10 persen, bahkan ada yang mencapai 14 persen.

Berdasarkan data yang tercantum di situs resmi perbankan masing-masing suku bunga dasar redit KPR yang ditetapkan per 31 Desember 2014 lalu bervariasi, seperti Bank Mandiri      11.00 persen, BTN 11,50 persen, BRI 10,25 persen, BNI 11.10 persen, BCA 10,50 persen, BSB 12.25 persen, Bank bjb 9.58 persen, Bank DKI 11,50 persen, Bank Bukopin 13,25 persen, Bank Mega 14.00 persen, OCBC NISP 12,75 persen, Bank Saudara 12.75 persen, Bank Permata 12.50 persen dan Bank Danamon 12,25 persen.

Dari data diatas, hanya bank bjb yang menerapkan suku bunga dibawah 10 persen tepatnya di angka 9,58 persen, sementara yang paling besar menerapkan suku bunga kreditnya Bank Mega dengan besaran 14,00 persen. Marketing Manager PT Bintang Agung pengembang perumahan mewah Green Resort Palembang Krishna Kusumatedja mengungkapkan, pasar properti khususnya rumah kelas menengah atas dengan kisaran harga diatas Rp400 juta terus mengalami penurunan penjualan. Dampak politik yang terjadi secara berkepanjangan selama 2014 turut menjadi penyebab selain tingginya suku bunga dan DP akibat aturan LTV.

“Penurunan penjualan rumah sangat terasa ketika semester kedua tahun 2014. Disaat suku bunga tinggi, pasar properti harus dihadapkan dengan gesekan politk yang berkepanjangan, hal ini menyebabkan para investor dan calon pembeli rumah banyak yang melakukan penundaan untuk investsai pembelian rumah, ini terjadi bukan hanya di Palembang, namun hampir di semua kota besar di Indonesia,” kata dia.

Tingginya suku bunga kredit kepemilikan rumah turut memberikan andil, sebab ketika suku bunga terlalu tinggi, daya angsur masyarakat semakin lemah, apalagi sepanjang tahun lalu, kondisi ekonomi yang cederung labih membuat bayang-bayang kenaikan suku bunga selalu menghampir, tidak ayal hal ini semakin menambah kekhawatiran calon pembeli.

“Sepanjang tahun lalu, mayarakat dihantui dengan bayang-bayang kenaikan BBM. Jika harganya naik, dipastikan BI Rate akan naik dan tentu suku bunga bank akan mengikut, ini terbukti ketika BI menaikkan suku bunga acuan, hampir semua bank menaikkan suku bunga kreditnya,” jelasdia. Hal inilah yang membuat penjualan properti mengalami penurunan drastis. Bagi pengembang, tentu selalu membuat ide dan gagasan merketing untuk tetap eksis dalah penjualan, salah satu hal yang bisa dilakukan tentu dengan menggelar promo penjualan. Di Green Resort sendiri menghadirkan promo penjualan dengan sistem pembayaran cash bertahap. Misal pembayaran 36 kail tanpa KPR akan mendapatkan hadian motor atau hadian lainnya.

“Ketika program ini kami hadirkan Desember tahun lalu, penjualan secara bertahap merangsek mengalami kenaikan, sebab meski dengan sistem pembayaran angsuran juga, namun konsumen tidak harus menderita beban suku bunga tinggi dari bank. Pola pembayaran cash bertahap ini sendiri dilakukan pengembang tanpa bunga, sementara pembayaran juga bisa mengangsur,” jelas Krishna.

Jika melihat kasus seperti ini, jelas mayarakat sangat terbebani dengan tingginya suku bunga kredit KPR. Apalagi ketika melihat haga rumah yang paling tinggi di Green Resort yang mencapai miliaran rupiah dengan beban bunga diatas 10 persen tentu secara hitungan cukup besar bunga yang ditanggung konsumen. “Memasuki awal 2015, ini tren konsumen yang mengesampingkan KPR terus berlanjut, sebab meski baru mencatat beberapa penjualan, namun semuanya memilih sistem pembayaran cash bertahap tanpa melibatkan perbankan,” kata dia.

Wakil Ketua Umum Real Estate Indonesia bidang Perizinan Oka Murod mengaku, tingginya suku bunga merupakan salah satu penyebab sulitnya menjual rumah kelas premium. Sebab konsumen harus menderita beban angsuran yang membengkak, belum lagi ancaman kenaikan suku bunga akibat tekanan ekonomi regional yang bisa saja mengancam.

Meski peluang bisnis properti masih ada cela untuk tumbuh, namun setidaknya suku bunga tinggi mampu mengerem laju pertumbuhan kredit sektor KPR. Hal ini bisa terlihat dari progres kinerja perbankan yang menggarap bisnis perumahan. “Namun tingginya angka kebutuhan rumah, baik rumah subsidi maupun rumah komersial, menjagi gambaran bagi parang pengembang untuk tetap optimis kalau bisnis properti akan kembali bersinar,” jelas dia.

Kepala Kanwil Bank Mandiri Kuki Kadarisman mengatakan, era suku bunga tinggi tentu tidak lepas dari tingginya subu bunga acuan Bank Indonesia, sebab ketika BI Rate tinggi tentu bank harus menempatkan bunga yang bisa memberikan keuntungan antara selisih bunga simpanan dengan bunga pinjaman. Jika memang mengacu pada harga BBM, sebenarnya BI rate sepatutnya diturunkan menginggat harga BBM telah ditetapkan penurunannya oleh pemeirntah.     “Konsekuensinya kan jelas kalau harga minyak dunia mengalami penurunan sehingga harga BBM Indonesia juga ikut turun. Ketika harga BBM naik November 2014 lalu, BI rate mengikuti juga. Namun ketika BBM turun, BI rate tetap. Memang seharusnya juga ikut diturunkan agar ekonomi kembali bergairah,” tutupnya. (iam)

 

 

 

LEAVE A REPLY