Ketahanan  AirAsia

0
861

 

Oleh: M Wiman Wibisana

(Pengamat Penerbangan)

 

PERISTIWA hilang kontak AirAsia tujuan Singapura dari Surabaya kemarin (28/12) bukan semata sebuah kecelakaan pesawat. Namun, lebih dari itu. Kejadian tersebut juga merupakan sebuah uji ketahanan bagi AirAsia. Jika berhasil melalui itu, AirAsia akan memasuki era kejayaan barunya. Jika gagal, bukan mustahil itu adalah pukulan mematikan yang bakal menutup maskapai bujet itu selamanya.

AirAsia benar-benar sukses memosisikan diri dengan brand sebagai maskapai penerbangan murah. Sebelum diambil alih Tony Fernandes pada 2002, maskapai tersebut nyaris bangkrut. Promosi online yang masif dan manajemen yang efisien mampu menempatkan AirAsia sebagai perusahaan yang meraih predikat maskapai low cost terbaik.

Gelar bagi AirAsia sebagai maskapai berbiaya rendah terbaik bukanlah pepesan kosong. Saat maskapai lain berusaha main-main dengan biaya perawatan pesawat, AirAsia justru sebaliknya memangkas biaya yang tidak perlu pada sektor lain. Salah satu sektor efisiensi yang ditempuh ialah meniadakan penjemputan bagi kru dari rumah ke bandara. Jangan heran jika mendapati kru AirAsia turun dari kendaraan pribadi atau menumpang angkutan umum kala menuju bandara.

Efisiensi AirAsia juga ditempuh lewat perencanaan rute dan jadwal yang tepat. AirAsia mengatur rutenya sedemikian rupa sehingga tidak mengharuskan krunya menginap di suatu kota. Pada hari itu juga, krunya akan kembali ke kota di mana dia berdomisili. Langkah tersebut juga terbukti meningkatkan efisiensi tanpa mengompromikan perawatan pesawat.

Dalam bukunya The AirAsia Story, Sen Ze & Jayne Ng juga mengisahkan berbagai terobosan lain yang dilakukan Tony Fernandes, CEO AirAsia, untuk menjadikan AirAsia sebagai maskapai penerbangan yang nyaman. Slogan All for One, One for All yang mungkin acap kita temui di seragam pegawai AirAsia ternyata bukan tanpa makna. Ada makna yang dalam di balik slogan tersebut. Lewat slogan itu, Tony Fernandes ternyata bermaksud mengikis ego setiap lini, baik itu pilot, pramugari, mekanik, maupun staf darat. Lewat slogan itu, Tony bermaksud menyatukan semua lini demi membesarkan AirAsia.

Soal pemilihan jenis pesawat pun, AirAsia menerapkan pilihan tunggal ke Airbus A-320 untuk rute regional dan Airbus A-330 untuk AirAsia X, unit bisnis jarak jauh. Pemilihan itu ternyata didasari pertimbangan bahwa pelatihan awak pesawat akan lebih mudah jika hanya mengoperasikan satu jenis pesawat. Promosi yang masif via internet pun ternyata bukan tanpa alasan. AirAsia memandang bahwa perkembangan masyarakat yang melek internet menjadikan efisiensi bisa dilakukan karena memangkas biaya promosi. Soal efisiensi, penggunaan tiket elektronik dan self check-in harus diakui merupakan kepeloporan AirAsia.

Noda di Rekor Mulus

Efisiensi dan kecermatan manajemen yang diterapkan AirAsia hingga kini memang mampu menghasilkan rekor yang fantastis. Rekor AirAsia Group sejak diambil alih Tony Fernandes pada 2002 mulus tanpa kecelakaan serius yang merenggut korban jiwa. Itu menandakan bahwa upaya AirAsia bertumbuh juga seiring dengan peningkatan kesadaran keselamatan dan perawatan armadanya. Jika dibandingkan dengan sebelum diambil alih Tony Fernandes pada 2002, AirAsia merupakan maskapai penerbangan yang tidak efisien dan diragukan. Setelah era Tony, AirAsia merupakan maskapai penerbangan yang dapat diandalkan.

Adalah sebuah kemestian sebuah produk akan mengalami uji ketahanan, baik dari lingkungan maupun pasar. Sebagai gambaran, Garuda Indonesia sukses membalikkan tahun buruk penuh utang dan kecelakaan pesawat sehingga sekarang menjadi maskapai penerbangan bintang lima. Garuda sudah lulus uji tahan. Kemudian, Malaysia Airlines sepanjang 2014 dihantam hilangnya MH 370 rute Kuala Lumpur–Beijing dan tertembaknya MH-17 rute Amsterdam–Kuala Lumpur. Kini saat Malaysia Airlines berupaya memulihkan diri, muncul cobaan lain bagi AirAsia menghadapi hilangnya kontak dengan QZ-8501 rute Surabaya–Singapura.

Sebuah noda di rekor mulus AirAsia, tampaknya, bukan hanya mencoreng brand AirAsia dari sisi safety. Lebih dari itu, ujian ketahanan yang dihadapi AirAsia tersebut benar-benar merupakan uji ketahanan yang menentukan. Fluktuasi harga bahan bakar dan tingkat keterisian penumpang, rupanya, bukan masalah berat bagi AirAsia.

Sebab, selama ini mereka mampu melalui itu dengan baik. Namun, pembentukan tim penyelamat dan tim pencari untuk QZ 8501 akan menjadi ujian sesungguhnya. Tidak mudah mengelola musibah, baik dalam penanganannya maupun re-branding pasca penangangan. Sebagai sebuah brand, itulah ujian terberat AirAsia. Semoga pesawat segera ditemukan dan AirAsia lolos dari uji ketahanan. (*)

 

LEAVE A REPLY