Kenali Resiko Sebelum Investasi di Bursa Berjangka

0
172

RADAR PALEMBANG,  Bagi sebagian kalangan berinvestasi dibursa berjangka masih sangat asing. Sebab selain membutuhkan modal yang cukup pantastis, investasi ini juga mengandung resiko yang cukup besar, kerugian pasti ada.

Namun dibalik semua itu, investasi dibursa berjangka tetaplah ada peluang untuk meraup untung besar. Hampir sama dengan bursa saham Indonesia, dibursa saham berjangka nasabah bisa mengambil opsi dari dua arah. Keuntungan bisa didapat ketika bursa sedang turun atau ketika sedang naik. Inilah yang membedakan dengan pasar saham tanah air atau IHSG.

PT Rifan Financindo Berjangka merupakan salah satu perusahaan berjangka yang cukup kompeten yang memiliki segudang pengalaman menghasilkan investor yang sukses merau untuk besar.

Kepala Cabang RFB Kota Palembang Eko Budhy Prasetyo mengatakan, berinvestasi dibursa berjangka memiliki banyak keunggulan yang kompetitif. Pertama setiap pergerakan satu poin maka marginnya setara dengan 5 dolar, sementara pergerakan harian berada dikisaran 20-500 poin.

“Kita bisa mengambil keuntungan dari dua arah, jika tren posisi bursa naik kita bisa ambil opsi open buy sementara jika tren turun kita bisa ambil opsi open sell. Semua ini kita bisa meraup keuntungan,” jelas Eko belum lama ini.

Untuk mendapatkan acuan pergerakan bursa nasabah bisa menggunakan pendekatan atau analisah secara teknikal maupun fundamental. Dari sisi fundamentalnya kita bisa mengetahuinya dari berita yang beredar, tensi politik kebijakan ekonomi dan lain sebagainya.

“Sementara secara teknikal, kita bisa membacara history prize dari pergerakan bursa baik, busa Hongkong maupun Jepang, sebab sejauh ini Ripan hanya memperdagangkan dua bursa tersebut,” jelanya.

Meski memiliki potensi untuk mendapatkan margin, namun nasabah khsusunya yang baru berkecimpung di bursa berjanga terlebih dahulu harus mengenal faktor resiko terlebih dahulu.

“Sebab inbestasi ini bukan jenis investasi padal modal, karena pelung untung sangat besar juga rugi potensinya besar juga. Makanya kami selalu sarankan kepada investor kami terlebih dahulu harus mengenal dan mengetahui faktor rugi, sehingga ketika sudah masuk mentalnya sudah tahan uji,” jelasnya.

Untuk masuk menjadi investor berjangka baik itu produk gold, saham maupun mata uang setidaknya butuh dana minimal 10 ribu dolar atau Rp100 juta.

Dari dana tersebut 70 persen bisa di investasikan atau di jadikan modal, sementara sisanya disiapkan untuk dana pencadangan. “Jika sudah paham faktor resikonya, investasi di saham berjangka sangat mudah, kita bisa melakukan online treding, sementara untuk pemula disediakan aplikasi demo. Sementara untuk penarikan dana bisa dilakukan satu hari,” katanya.

Untuk penyetoran dana bisa mengambil sistem fixed rate 1 dolar setara Rp10 ribu atau floting rate dengan mengacu oergerakan mata uang yang berlaku saat itu. “1 lot setara seribu dolar, jadi nasabah tinggal pilih mau beli berapa lot dari modal yang disetor,” katanya.

Eko menjelaskan, investasi index terdiri dari beberapa jenis, antara lain index Nikkei (Jepang), dan Hanseng (Hongkong).  Antara risiko dan keuntungan di produk ini sering berbanding lurus, dan faktor naik turunnya harga ditentukan oleh kondisi ekonomi dan geopolitik di luar negeri.

Eko menjelaskan bahwa saat ini diakui memang belum banyak nasabah yang berinvestasi di indeks, karena masih minimnya pengetahuan risiko, dibandingkan produk lain semisal Locogold.

Namun demikian, risiko itu sejatinya selalu ada dalam setiap produk investasi, tinggal bagaimana kita bisa mengetahui cara mengaturnya (manage),” terang dia. (iam)

LEAVE A REPLY