Kemarau, Petani Beralih Tanam Sayur Organik 

0
515
Sayuran organik yang ditanam petani disaat musim kemarau menjadi alternatif pendapatan saat tanam padi tidak dapat dilakukan

RADAR PALEMBANG – Kemarau paniang yang terjadi saat ini membuat sebagian petani berpikir keras untuk tetap mendapatkan penghasilan disaat sawah tadah hujan tidak bisa ditanami. Salah satu acara adalah dengan menanam sayur organik. Hal ini dilakukan petani di Tebat Sari, Kecamatan Martapura.

Lahan yang kering tidak membuat Sunyono berpangku tangan menunggu hujan. Dirinya mengubah sawahnya yang biasa ditanami padi menjadi tanam sayur. Sayuran yang ditanam pun berbagai jenis mulai dari bayam, kangkung dan lainnya yang semunya merupakan sayuran organik.

Proses pengolahan lahan diakuinya dilakukan secara bertahap. Usai jerami limbah batang padi ditimbun dan menjadi pupuk kompos, guludan tanah dibuat untuk media penyemaian, taburan pupuk kandang tetap dilakukan. “Untuk pupuk kandang berasal dari kotoran ternak sapi dan kambing,” ujarnya.

Menurut Sunyono, butuh waktu satu pekan agar media tanam siap ditanami dengan proses penyiraman. Sayuran yang dikembangkan oleh Sunyono dibantu Siti sang istri meliputi  bayam, daun kemangi, kangkung dan selada .

“Pola tanam yang saya terapkan dengan sistem terjadwal menyesuaikan usia sayuran yang bisa dipanen mingguan, setiap bulan sehingga pasokan ke warung selalu terpenuhi,” ungkapnya.

Penerapan penanaman organik diakui Sunyono sekaligus untuk memenuhi kebutuhan masyarakat pada sayur organik. Kesadaran masyarakat akan sayuran sehat tanpa residu kimia menjadi peluang usaha baginya. “Jenis sayuran seperti kemangi, selada kerap dibeli oleh usaha kuliner pecel lele sebagai lalapan, sebagian dijual ke warung,” terangnya.

Sementara Awi petani lainnya mengatakan, dirinya menanam khusus daun selada,bmenurutnya menanam daun selada sangat mudah dan perawatannya juga sangat ringan. Sementara keuntungan yang didapat sangat banyak.

“Selada sangat mudah, bila panen bisa setiap hari, daun selada dijual ke pasar satu ikatnya Rp 1.500, sementara saya bisa menjual dalam sehari 75 ikat bahkan lebih tergantung pesanan dari pembeli,” pungkasnya.(awa)

LEAVE A REPLY