Kasus Kekerasan dan Pelecehan Anak Meningkat

0
342

 

RADAR PALEMBANG – Terhitung sejak Januari hingga Oktober 2016, kasus kekerasan terhadap anak di Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara) mengalami peningkatan yakni 9 kasus dari tahun 2015 yakni sebanyak 6 kasus.

Kasus tersebut menurut Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan Keluarga Berencana dan Perlindungan Anak (BPPKBPA) Kabupaten Muratara, Syafruddin tidak hanya didominasi pada kekerasan anak melainkan pada pelecehan seksual.  “Terhitung Januari hingga Oktober 2016, ada 9 kasus yang tercatat di BPPKBPA Muratara,” ungkapnya Kepada Radar Palembang kemarin diruang kerjanya.

Lanjutnya, kasus dimaksud sudah termasuk dengan aksi damai yang dilakukan pelajar terkait dengan penolakan pergantian Kepala Sekolah (Kasek) beberapa waktu lalu. Karena, apa yang telah dilakukan dimaksud merupakan sebuah pelanggaran dan tidak boleh dilakukan.

“Permasalahan ini masih dalam proses  proses penyidikan terkait aksi  dimaksud, siapa yang melakukan pergerakan itu, ataukah memang niat dari siswa itu sendiri ataukah ada penggerak dibelakang mereka,” jelas dia.

Lebih jauh Syafruddin iamengatakan, untuk itu pihaknya telah menjalin kerjasama dengan Pusat Pelayanan Terpadu Perempuan dan Anak (P2TPA) dalam penyidikan kasus tersebut. Dalam kasus ini, sejatinya ada sanksi bagi penggerak dibalik aksi tersebut, bisa berupa pidana maupun pemberhentian seandainya itu dilakukan oknum guru. “Bahkan saat ini ada satu kasus pelecehan terhadap anak yang tengah bergulir dipengadilan,” ceritanya.

Sebagai antisipasi kedepan, pihaknya telah membentuk Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM), namun untuk tahap awal baru dua daerah yang menjadi vilot projek, satu kelurahan dan satu desa.

“Setiap PATBM dibentuk 10 aktivis untuk mengajak, mensosialisasikan serta menganjurkan kepada masyarakat dan memantau jika ada kekerasan dan pelecehan terhadap anak demikian dengan penyalahgunaan dan peredaran narkoba terhadap anak,’’ imbuhnya.

“Untuk di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) sendiri, ada dua daerah sebagai daerah percontohan, yakni Kabupaten Muratara, dan Kota Palembang,” jelasnya lagi.

Masih kata Syaruddin, diharapkan dengan adanya aktivis dimaksud dapat mengidentifikasi akan dampak-dampak terjadinya kekerasan terhadap anak demikian dengan peredaran narkoba.

Artinya, kita lebih mengidentifikasi kepada pemicu, apakah pengaruh lingkungan ataukah ekonomi maupun pendidikan.  “Kalaupun soal ekonomi tentunya tidak mungkin hal itu terjadi karena, mengapa mereka mampu mengkonsumsi narkoba,” tutupnya. (jam)

 

LEAVE A REPLY