Januari, Harga Rumah MBR Naik

0
1446

 

RADAR PALEMBANG – Kenaikan harga BBM mengharuskan para pengembang untuk menaikkan harga rumah. Tak terkecuali rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) Meki kesepakan kenaikan sudah dilakukan tahun lalu, namun dengan kondis sekarang pengembang sudah sangat sulit untuk menjual rumah MBR di kisaran Rp105 juta.

Ketua Umum DPP Asosiasi Pengembang Perumahan dan Pemukiman (Apersi) H Eddy Ganefo mengunakpkan, sejauh ini Apersi sudah membuat rancangan dan skema dalam menyikapi kenaikan harga BBM. Salah satu poinnya tentu usulan kenaikan harga rumah termasuk rumah subsidi untuk MBR.

Usulan kenaikan harga, kata Eddy sudah disesuaikan dengan cost yang harus dikeluarkan para pengembang ketika membangun rumah, dengan kenaikan harga BBM yang mencapai Rp 2 ribu perliter maka. Apersi mengambil kesimpulan untuk rumah MBR diusulkan mengalami kenaikan Rp 5 juta setiap unit.

13ed6aea
Ketua Umum DPP Asosiasi Pengembang Perumahan dan Pemukiman (Apersi) H Eddy Ganefo

‘’Kenaikan tersudah menimbangkan faktor inflasi akibat kenaikan BBM, sebab dengan kondisi sekarang, para pengembang akan sangat dibebankan oleh kenaikan bahan baku dan material bangunan. Sangat sulit bagi pengembang jika tidak menaikkah harga. Dengan harga yang lama saja untuk pengembang setiap satu unit rumah sangat tipis, ditambah lagi dengan beban kenaikan BBM,’’ jelas Eddy.

Selain factor material bangunan yang pastinya akan meroket, pengembang juga harus memperhatikan upah tukang. Mereka juga terkena dampak kenaikan harga BBM, untuk itu secara manusiawi upah tukang juga harus menglami penyesuaian.

‘’Kesepakatan dengan Kementrian PU Pera, Kemenkeu dan Kemendagri, kenaikan harga rumah subsidi akan diterapkan Januari 2015 dengan harga maksimal dikisaran Rp110 juta untuk Sumsel,’’ jelas dia.

Wakil ketua Umum Realestate Indonesia Bidang Perizinan H Oka Murod mengatakan, secara pasti dampak kenaikan BBM akan mempengaruhi harga rumah. Menurutnya, tidak mungkin pengembang mau menanggung kerugian akibat harga BBM naik. Otomatis langkah yang akan dilakukan juga menaikkan harga rumah, baik rumah komersial maupun rumah subsidi.

Hanya saja untuk waktu penerapannya, khusus untuk rumah subsidi harus mendapatkan persetujuan dari kementrian karena ini program pemerintah, pengembang tidak bisa mengambil tindakan sepihak.

‘’Makanya bagi yang ingin membeli rumah subsidi sebaiknya sebelum tutup tahun. Soalnya pengembang akan membahas kenaikan harga bersama pemerintah beberapa hari lagi. Otomatis semasa pembahasan pengembang tidak bias menaikan harga sebelum ada kesepakatan. Sementara untuk menahan penjualan juga tidak diperbolehkan,’’ ungkapnya.

Sementara itu, Eddy Hussy, Ketua Umum Persatuan Perusahaan Realestate Indonesia (REI), mengatakan, rata-rata kenaikan harga properti di Indonesia sekitar 10 persen sampai 15 persen per tahun. Namun, dengan naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dan upah pekerja, maka harga hunian pada tahun depan bisa naik hingga 20 persen.

Kendati demikian, Eddy menilai belum mengindikasikan terjadinya penggelembungan aset (bubble) properti seperti yang dikhawatirkan banyak pihak. Sebab, harga properti di Tanah Air relatif masih lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara tetangga di kawasan Asia.  ‘’Tentu kenaikan itu akan terjadi. Mungkin pada lokasi-lokasi tertentu yang naiknya tinggi dan itu terbatas. Tapi tidak di seluruh Indonesia,’’ katanya.

Sektor properti saat ini tengah mencermati pergerakan suku bunga kredit. Dengan naiknya suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate), Eddy khawatir akan diikuti dengan melonjaknya suku bunga KPR yang otomatis akan menurunkan permintaan hunian. ‘’Kami khawatir kalau bunga naik terus akan menghambat industri properti karena masyarakat akan semakin berat membeli properti,’’ jelasnya.

Seperti diketahui, tak selang berapa lama setelah harga BBM bersubsidi naik Rp 2.000 per liter, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada Selasa sore (18/11) memutuskan menaikkan BI rate sebesar 25 basis poin menjadi 7,75 persen.  ‘’Sekarang bunga KPR itu sudah di atas 10 persen, sekitar 12-14 persen. Saya tidak tahu akan naik jadi berapa dengan naiknya BI rate,’’ katanya.

Menurut Eddy, kendati ada risiko perlambatan, REI belum akan merevisi turun target 10 persen pertumbuhan industri properti tahun depan. Sebab, dia masih menaruh harap pemerintah dan otoritas perbankan akan membuat kebijakan kredit dan iklim ekonomi yang lebih bersahabat bagi pelaku properti.

 

Property Melambat

Sementara itu, di tempat terpisah Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara menyatakan, aklhir-akhir ini bisnis property masih positif namun tetap mengalami pelambatan. ”Perkembangan sektor properti residensial tersebut sejalan dengan proses penyesuaian perekonomian yang masih berlangsung secara terkendali ke arah yang seimbang dan berkesinambungan,” ungkapnya.

Dia memerinci, perlambatan penjualan tecermin dari penurunan penyaluran kredit pemilikan rumah (KPR) dan kredit pemilikan apartemen (KPA) 0,03 persen (qtq). Sebagaimana diketahui, KPR masih menjadi sumber pembiayaan yang dominan bagi konsumen dalam pembelian properti residensial. Meskipun terhitung tak rendah, suku bunga KPR mencapai 9–12 persen. ”Perlambatan pertumbuhan terutama terjadi pada rumah tipe besar,” terangnya.

Sementara itu, BI juga mencatat, harga properti residensial pada kuartal ketiga 2014 tetap mengalami pertumbuhan kendati melambat dari kuartal sebelumnya. Survei harga properti residensial di kota besar pada kuartal tersebut hanya tumbuh 1,46 persen atau lebih rendah dibandingkan dengan kuartal sebelumnya 1,69 persen. Beberapa faktor yang memengaruhi pertumbuhan harga itu adalah kenaikan harga bahan bangunan 32,00 persen dan kenaikan upah pekerja 22,77 persen.

Menurut Tirta, perlambatan kenaikan harga terjadi pada semua tipe rumah, khususnya rumah tipe kecil (0,63 persen qtq). Berdasar wilayah, Balikpapan mencatat pertumbuhan yang terlambat 1,18 persen. Sementara itu, Makassar mencatat pertumbuhan yang paling lambat hanya 1,53 persen (qtq) untuk tipe rumah menengah.

‘’Kami prediksi, pada kuartal empat 2014, harga properti residensial hanya akan tumbuh 0,63 persen atau tetap melambat dibandingkan pertumbuhan pada kuartal sebelumnya,’’ ujarnya.

Hal itu didukung dengan hasil survei triwulanan yang mencatat perlambatan pada kenaikan harga tipe rumah menengah (0,53 persen). Sementara untuk wilayah dengan perlambatan harga tertinggi ada di Manado dan Bandung yang masing-masing tumbuh 0,15 persen dan 0,77 persen. (iam/jpnn)

LEAVE A REPLY