Jaga Harga Cabai dan Bawang!

0
141

 

RADAR PALEMBANG – Sepanjang 2017, dalam catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel, harga cabai dan bawang merah menjadi momok dalam perhitungan inflasi di Bumi Sriwijaya. Mengaca dari pengalaman, kedua komoditas tersebut dijaga agar harganya tak melonjak dan lama.

Hasilnya, baik cabai dan bawang merah diklaim BPS Sumsel, harganya terkendali dan inflasi juga tak terlalu tinggi. Namun, harga angkutan umum, salah satunya tiket penerbangan menjadi penyumbang inflasi cukup besar di Sumatera Selatan sepanjang 2018 lalu.

Mengacu pengalaman tersebut, setidaknya, harga cabai dan bawang merah masih akan diperhatikan agar harganya terjaga. Sepanjang tahun 2018 indeks harga atau inflasi di Sumatera Selatan cenderung terkendali karena berada jauh dibawah target yang ditetapkan pemerintah.

Berdasarkan data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik Sumatera Selatan, secara year on year hingga desember 2018 inflasi tercatat hanya 2,74 persen. Angka ini jauh dibawah tergert tim pengendali inflasi daerah sebesar 3,5 persen plus minus satu persen.

Menurut Kepala BPS Sumsel Endang Tri Wahyuningsih, terkendalinya inflasi tahun 2018 lalu berkat harga kebutuhan barang pokok yang terkendali, beras bawang merah dan cabai yang biasanya menjadi penyumbang terbesar cenderung terjaga harganya, makanya inflasi terkendali.

Menurutnya, Kota Palembang bulan Desember 2018, Inflasi Tahun Kalender sama dengan Inflasi year on year (Desember 2018 terhadap Desember 2017) sebesar 2,78 persen.

Komoditas yang menyumbang andil inflasi terbesar di Kota Palembang antara lain angkutan udara, daging ayam ras, angkutan antar kota, telur ayam ras dan cabai merah.

Sementara Kota Lubuk Linggau bulan Desember 2018, Inflasi Tahun Kalender sama dengan Inflasi year on year (Desember 2018 terhadap Desember 2017) sebesar sebesar 2,42 persen. Komoditas yang menyumbang andil inflasi terbesar di Kota Lubuk Linggau antara lain daging ayam ras, cabe merah, dan telur ayam ras.

“Provinsi Sumatera Selatan bulan Desember 2018, Inflasi Tahun Kalender (Kumulatif Tahun 2018) sama dengan Inflasi year on year (Desember 2018 terhadap Desember 2017 sebesar 2,74 persen,” kata Endang.

Sementara, Plt Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan Hari Widodo menuturkan, terkendalinya inflasi tahun lalu berkat koordinasi rutin yang dilakukan oleh TPID.

TPID memfoksukan penyediaan pasokan barang kebutuhan pokok yang sering menjadi penyumbang, sepeti beras telur ayam, bawang dan cabai. “Yang masih menyumbang andil inflasi cukup besar masih yang sifatnya temporari seperti tiket pesawat terbang yang melambung tinggi saat hari raya atau libur panjang,” jelasnya.

Selain itu, lanjut Hari tahun lalu TPID menerapkan setrategi baru dalam mengendalikan inflasi, TPID selalu membuat perencanaan pengendalian lebih awal dari biasanya, sehingga ketika ada tanda-tanda harga akan bergejolak langsung dilakukan langkah antisipasi agar lonjakan harga tidak terlalu tinggi.

Ia membantah jika rendahnya inflasi tahun lalu disebabkan daya beli masyarakat yang turun, namun lebih disebabkan haga pangan yang terkendali. “Saya pikir tahun lalu daya belu masih cukup oke, inflasi rendah karena barang kebutuhan pokok yang biasanya mengalami lonjakan harga bisa dikendalikan, seperti beras,” tutupnya. (iam)

LEAVE A REPLY