Inflasi Diprediksi Naik

0
613

 

RADAR PALEMBANG – Pasca-lebaran, tekanan inflasi Sumatera Selatan (Sumsel) menurun dibandingkan bulan sebelumnya. Pada Agustus 2014, inflasi Sumsel tercatat 0,10% (mtm) lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 0,98% (mtm). Penurunan inflasi terjadi baik di kota Palembang maupun Lubuklinggau masing-masing sebesar 0,10% mtm) dan 0,06% (mtm).

Penurunan harga terutama terjadi pada kelompok volatile food yang mengalami deflasi sebesar 0,24% (mtm). Deflasi kelompok tersebut diakibatkan normalisasi harga sayur-sayuran yang bulan sebelumnya meningkat. Sementara itu, kelompok administered price dan inti juga menurun menjadi sebesar 0,22% (mtm) dan 0,19% (mtm) atau lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 1,17% (mtm) dan 0,38% (mtm).

Tekanan inflasi di kota Palembang menurun dari 0,89% (mtm) di Juli 2014 menjadi 0,10% (mtm). Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh deflasi kelompok volatile food dan menurunnya inflasi kelompok administered price dan inti. Kelompok volatile food mengalami deflasi sebesar 0,18% (mtm), menurun dibandingkan periode sebelumnya inflasi sebesar 2,16% (mtm). Komoditas pendorong deflasi kelompok volatile food adalah komoditas tomat sayur dan tomat buah yang masing-masing memberikan andil inflasi Palembang sebesar 0,12% (mtm) dan 0,03% (mtm).

Penurunan harga ini juga dikonfirmasi oleh hasil Survei Pemantauan Harga (SPH) yang dilakukan di kota Palembang. Hasil SPH menunjukkan deflasi kelompok volatile food terutama disebabkan oleh penurunan harga komoditas udang dan tomat buah. Selain itu, SPH juga mencatat perlambatan inflasi inti dan administered price.

Inflasi kelompok administered price Palembang menurun dari sebesar 1,27% (mtm) menjadi 0,19% (mtm) pada bulan Agustus 2014. Hal tersebut disebabkan penurunan tarif angkutan udara dan dalam kota yang masing-masing memberikan andil deflasi sebesar 0,10% dan 0,08%. Penurunan tarif tersebut terutama disebabkan normalisasi harga pasca-lebaran. Penurunan harga kedua komoditas ini lebih besar dibanding kenaikan komoditas administered yaitu tarif listrik dan rokok kretek filter yang masing-masing memberikan andil inflasi sebesar 0,16% dan 0,03%.

Kenaikan tarif listrik sejalan dengan kebijakan peningkatan tarif listrik untuk rumah tangga golongan tertentu yang diberlakukan pada Juli 2014 lalu. Lebih lanjut, inflasi inti tercatat menurun dari 0,37% (mtm) menjadi 0,17% (mtm). Penurunan terjadi akibat deflasi ikan sepat siam dan kayu balokan yang masing-masing memberikan andil deflasi sebesar 0,02% dan 0,01%. Deflasi tersebut menetralisir inflasi upah pembantu rumah tangga dan dokter spesialis yang memberikan andil inflasi masing-masing sebesar 0,01%.

Laju inflasi kota Lubuklinggau menurun dibandingkan periode sebelumnya. Inflasi Agustus 2014 tercatat sebesar 0,06% (mtm) menurun signifikan dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 1,72% (mtm). Kondisi tersebut terutama disebabkan deflasi kelompok volatile food dan menurunnya inflasi inti. Sementara itu, inflasi kelompok administered price masih meningkat. Kelompok volatile food mengalami deflasi terutama disebabkan oleh penurunan harga komoditas jeruk dan telur ayam ras yang masing-masing memberikan andil deflasi sebesar 0,29% dan 0,07%.

Hal tersebut diperkirakan terjadi akibat normalisasi pola konsumsi pasca-lebaran dan musim panen di daerah pemasok sayuran dekat Lubuklinggau. Inflasi inti juga mengalami penurunan seperti penurunan ikan sepat siam. Sementara itu, inflasi administered price mengalami peningkatan akibat kenaikan tarif listrik yang memberikan andil inflasi bulanan sebesar 0,09% (mtm).

Inflasi provinsi Sumsel pada bulan September 2014 diperkirakan meningkat. Hal tersebut diakibatkan adanya kebijakan pembatasan penjualan BBM bersubsidi khususnya solar dan premium yang diperkirakan dapat meningkatkan tekanan kelompok administered price dan biaya transportasi. Selain itu, musim kemarau yang diperkirakan berlanjut hingga September 2014 berpotensi menganggu produksi. Namun demikian, konsumsi masyarakat masih tumbuh terbatas yang ditunjukkan dengan NTP yang melambat dan ekspektasi harga yang melambat mengakibatkan tekanan inflasi sedikit berkurang.

Dengan capaian inflasi Sumsel hingga Agustus 2014 ini sebesar 2,09% (ytd), diperkirakan inflasi masih terkendali sehingga sasaran inflasi Sumsel tahun 2014 yaitu 4,55±1% dapat tercapai. (rel/iam)

LEAVE A REPLY