Imbas Covid- 19, Pengusaha  Hotel- Restoran Butuh Keringanan

0
214
Ketua PHRI Sumsel, Herlan Asfiudin

RADAR PALEMBANG – Industri pariwisata terkhusus hotel dan restoran meminta keringanan terhadap bisnisnya karena terdampak langsung wabah Corona Virus Disease 19 atau COVID – 19.  Rencananya, hari ini, Jumat (27/3) DPD Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sumsel akan bersurat ke Pemerintah Kota Palembang terkait keringanan berusaha ditengah Corona menerpa.

Hal ini diungkapkan, Ketua PHRI Sumsel, Herlan Asfiudin, Kamis (26/3) mengatakan sudah dipikirkan semua, dan sekarang kita (industri hotel dan restoran,red) mau minta apa (ke Pemkot Palembang,red).

Pertama, sambung dia, mau minta keringanan (pajak,red), artinya tetap membayar pajak tapi jumlahya dikurangi, atau kedua minta penundaan maka nanti tetap bayar pajak tapi statusnya terhutang atau opsi yang ketiga meminta penghapusan (pajak,red).

Ini, kata Herlan masih didiskusikan sebelum diajukan ke pak walikota terkait permintaan hotel dengan terpukulnya industri akibat corona. Tapi, ingatkan Herlan, semua kebijakan Pemkot, ini pajak juga untuk kesejahteraan rakyat.

Dan, lanjut dia, sekarang rakyat yang kategori pengusaha lagi sulit, butuh bantuan pemerintah. “Apalagi, kita (hotel dan restoran,red) menyumbang PAD (pendapatan asli daerah,red), tentu saja pengusaha kita juga taat dan patuh.”

Karena itu, Herlan mengakui ada 3 opsi yakni penundaan, pemberian diskon dan penghapusan. Untuk sementara terkait pajak, kata Herlan, jangan bayar dulu, ya nggak ada yang mau dibayar, okupansi rendah, apalagi sekarang sudah akhir bulan, pajak ditagih setiap akhir bulan.

Rencananya, DPD PHRI Sumsel akan mengajukan surat ke Pemkot Palembang atas imbas Corona kepada industri yang dinaunginya. “Besok (hari ini,red), hari Jumat, kami akan bersurat ke Pemkot Palembang,”ujar dia.

Pengamat Ekonomi Unsri, Yan Sulistyo mengatakan wabah corona ini berpengaruh kepada semua sektor. “Bukan hanya hotel saja, kena semua, karena itu bisa saja dibebaskan biaya listrik, biaya PDAM untuk meringankan pelaku usaha,”ujar dia.

Bagaimana pelaku usaha mau memenuhi kewajibannya, terkait pajak dan restribusi kalau omzet mereka sedang turun akibat imbas corona. “Tingkat okupansi rendah, harusnya ada keringanan dari pemerintah di kondisi seperti ini,”ujar dia.

Sementara itu,  tidak dipungkiri dampak dari Coronavirus Disease 2019 atau COVID-19 membuat bisnis hotel mengalami kelesuan,  bahkan tingkat hunian hotel mengalami terjun bebas. Hal ini dikatakan Rendy Prapanca, General Manager Aryaduta Palembang kepada harian Radar Palembang, Kamis (26/3).

“Tidak pernah seburuk ini dampak bagi bisnis hotel. Sekarang ini dapat okupansi kamar 30 persen sudah bagus. Okupansi hotel di Kota Palembang saat ini cuma 13 persen,” keluhnya.

Tak hanya okupansi, hotel yang banyak dipilih masyarakat sebagai tempat melaksanakan pernikahan  karena memiliki kapasitas ruang yang besar serta berkualitas ini juga berdampak terhadap event-event wedding yang akan digelar. “Banyak yang sudah comfirmed untuk wedding  di bulan Maret dan April, terpaksa postpone sementara ke bulan Juni dan Juli,” ujarnya.

Untuk meningkatkan omset pendapatan hotel di tengah wabah virus Corona ini, ditambahkan Rendi,  saat ini Aryaduta Palembang sedang mempersiapkan untuk catering service, home cleaning dan sanitizing service,  dan baru saja di launch adalah paket Work From Hotel (WFH).

“Paket WFH ini mulai dari Rp150 ribu per orang,  dimana tamu bisa menggunakan The Kitchen atau The Lounge mulai dari pukul 9.00 hingga 17.00 WIB, dan sudah termasuk inclusive lunch, free flow coffee & tea, high speed internet access, clean & sanitized all room public area,” terangnya.

Hal senada disampaikan George Wenur, General Manager Wyndham Opi Hotel Palembang, dimana tingkat hunian menurun drastis untuk semua hotel di Palembang hingga seluruh dunia.

“Untuk kita sendiri sekarang tinggal 10 persen. Bahkan semua event meeting dan wedding sudah direschedule oleh PIC masing-masing sampai bulan Juni atau Juli,  itupun akan kita lihat situasi mendekati bulan-bulan tersebut,” jelasnya.

Menurut George, penundaan yang dilakukan ini untuk mengikuti maklumat pemerintah demi keselamatan bersama karena wabah yang terjadi sekarang sudah mendunia.

“Karena saat ini masyarakat dianjurkan untuk tetap tinggal dan beraktifitas di rumah,  maka kami menyediakan paket Meal Box Menu seharga Rp60 ribu dengan banyak pilihan mulai dari nas rendang, nasi ayam bakar, nasi ikan rica-rica, nasi ayam katsu, nasi briyani, dan masih banyak pilihan lainnya,” ucapnya.

Sementara Buditama Setiawan,  General Manager Harper Palembang mengatakan, Harper turut memberikan support kepada pemerintah untuk memerangi COVID-19 ini, dimana Harper sudah meminta pengunduran beberapa event kepada pihak tamu mengingat kondisi dan situasi yang memang tidak memungkinkan.

“Dari sisi internal kami selalu membersihkan permukaan benda-benda yang potensial dengan disinfektan setiap saat, selain itu kami juga melakukan pengukuran suhu tubuh dan penyediaan hand sanitizer seperti di lobi, lift,  dan restoran,” katanya.

Terkait penurunan tingkat hunian,  Budi mengakui hal tersebut juga berdampak bagi Harper Palembang, hal ini dikarenakan kegiatan industri MICE untuk sementara waktu dihentikan atau tidak diperbolehkan.

“Penurunan ini tentu saja mempengaruhi omset pendapatan hotel. Untuk menyiasati hal ini, kami menawarkan paket Work From Harper (WFH) seharga Rp575 ribu net per room per night. Ini sudah termasuk in room breakfast, late check out until 2 pm, hi-speed Wi-Fi connection, free business centre facilities, in room praying set, free mini bar, 20% discount to room service,  10% discount for next day stay,” tambahnya

Mario Adriansyah, Resident Manager at The Arista Hotel mengakui ada efek corona kepada industri perhotelan. Seperti kata Mario, weeding ditunda, meeting menyesuaikan dan beberapa even (kegiatan,red) juga ditunda.

Meski demikian, akui Mario, restoran masih tetap buka, kita ada brava, ada hiburan live music setiap hari kecuali hari Minggu, mulai kemarin tidak ada dulu sementara waktu.

Terkait okupansi hotel, ia menyebutkan, okupansi turun, tamu memang masih ada namun kebanyakan tamu lokal, karena semua (masyarakat,red) sudah menahan diri.

Ia menambahkan, apalagi ada arahan maklumat dari kapolri tidak boleh ada keramaian, karena itu kami (perhotelan,red) minta ada keringanan pajak, listrik dan PDAM agar bisa disesuaikan. “Apalagi penghasilan kita tidak sebanding dengan kondisi saat ini.”

Untuk operasional usaha, dirinya berharap tidak ada pengurangan pegawai. “Pada prinsipnya, kami berharap tidak ada dilakukan pengurangan (pegawai,red) tapi kita menyesuaikan kondisi di lapangan,” ujar dia. (hen/dav)

 

 

 

LEAVE A REPLY