Harus Perang Layanan

0
520

 

RADAR PALEMBANG – Bisnis maskapai penerbangan sedang menghadapi masa yang berat, kerugian kian mengancam perusahaan karena berbagai faktor, selain karena membengkaknya cosh operasional, aturan dari regulator pun dinilai makin memberatkan.

Masalah nilai tukar merupakan satu dari berbagai masalah, selain kurs, maskapai saat ini juga dibebani dengan biaya aftur yang makin tinggi, belum lagi persangan memperebutkan rute penerbangan yang semakin hari semakin sesak.

Pemerintah melalui kementrian perhubungan membuat rencana untuk menyeragamkan tarif batas atas dan batas bawah penjualan tiket, serta ada rencana menaikkah harga tariff batas atas 10 persen.

Menanggapi hal ini, pihak maskapai berpendapat kebijakan ini tidak akan berdampak buruk terhadap minat masyarakat untuk mengunakan jasa transfortasi. Sebab angkutan udara saat ini merupakan kebutuhan untuk mendongkrak kinerja, karena bentuk Negara kepulauan.

“Ketika penyeragaman tarif batas atas dan batas bawah disamakan, tentu persaingan maskapai lebih kompetitif, karena semua maskapai menjual tiket dengan rate batas harga yang sama. Tinggal bagai mana maskapai mengoptimalkan penjualan,” kata Audrey Progastama Petriny Head of Corporate Secretary & Communications AirAsia Indonesia.

Menurutnya, setiap tahun jumlah pengguna maskapai penerbangan domestis kian meningkat, untuk menyetarakan daya saing tentu kebijakan penyeragaman batas tarif tiket memang perlu dilakukan untuk menghindari monopoli penerbangan. “Antara BUMN dan swasta memiliki kesempatan yang sama, sebab swasta juga memiliki kesempatan yang sama untuk membangun negeri melalui jasa maskapai penerbangan,” jelas dia.

Menurutnya, meski ada rencana penyeragaman, namun pengelola maskapai tidak mengkhawtirkan hal ini. Sebab menurut dia, Air Asia memiliki kelebihan karena sejak pertama kali hadir sudah konsen dengan penerbangan Low Cost Carier (LCC).

“Persaingan harga tiket tentu lebih kompetitif, siapa yang bisa menekan harga tiket serendah mungkin kemungkinan besar akan bisa mendapatkan penumpang yang lebih besar, sebab penumpang merupakan bisnis utama penerbangan selain angkutan barang,” jelas dia.

Senior Manager Corporate Communication Sriwijaya Air Agus Soedjono tidak menampik jika kenaikan harga avtur dan depresiasi rupiah mengancam kelangsungan industri penerbangan. Sebab, menurut dia, BBM memberikan sumbangsih hampir 60 persen dari total biaya operasional. Sementara untuk menaikkan margin pendapatan, maskapai kesulitan untuk mendapatkannya dari penjualan tiket.

“Untuk menutupi cost operasional yang membengkak tidak mungkin dilakukan sepenuhnya dari penjualan tiket. Kenaikan tiket hanya memberikan dorongan sedikit terhadap biaya operasonal. Sisanya maskapai harus memutar otak lagi untuk menutupi kenaikan biaya operasional tersebut,” kata Agus.

Wacana pemerintah yang ingin menyeragamkan tarif penjualan tiket, tentu bisa sedikit menekan persaingan. Sebab maskapai akan menjual tiket dengan rate harga yang sama. “Tidak akan ada lagi embargo tiket, yang kelak yang akan terjadi bukan lagi perang tiket namun perang servis. Siapa yang bisa memberikan servis bagus pasti akan digandrungi penumpang,” terang dia.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Pelaksana Tugas (Plt) Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Santoso Eddy Wibowo mengatakan, kenaikan tarif batas atas pesawat dialokasikan sebesar 10 persen dari harga yang berlaku saat ini.

“Karena harga tarif batas atas jarang bisa dicapai. Karena airlines kan bersaing. Akan bisa dicapai pada saat peak season. Misal, Lebaran. Kalau sekarang susah dicapai. Karena naik akan sensitif. Oleh sebab itu, kami hanya naikkan 10 persen,” kata Santoso di kantornya, beberapa waktu lalu.

Santoso menuturkan, kenaikan tarif batas atas untuk tiket pesawat ini segera diterbitkan pada September 2014. Pasalnya, dokumen usulan tersebut sudah diberikan kepada Menteri Perhubungan (Menhub) EE Mangindaan. “Saya kira akhir September. Sudah diteken. Sudah jalan saja. Realisasi tinggal jalan,” tambahnya. (ben/iam)

 

LEAVE A REPLY