Harga Karet Terus Menukik

0
1033

 

RADAR PALEMBANG – Berdasarkan data historis di pasar Singapura maupun Malaysia, harga karet alam dunia saat ini menukik tajam dari kisaran USD 5,11 per kilogram pada 2011 menjadi kini hanya sekitar USD 2,19 perkilogram. Setiap tahun, setidaknya harga karet mengalami koreksi sekitar 20 persen.

Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi mengatakan, pihaknya tengah melakukan diplomasi pada organisasi-organisasi karet internasional. Serta bekerja sama dengan negara produsen utama karet dunia untuk menyetabilkan harga karet internasional. Agar, harga karet mencapai tingkat remuneratif bagi petani. ”Kami berharap kerja sama ini bisa dikembangkan dengan merangkul negara berkembang sebagai produsen karet, seperti Vietnam, Laos, dan Kamboja melalui rencana pembentukan ASEAN Rubber Committee,” katanya.

Pasar karet yang tengah merosot dipicu beberapa hal. Salah satunya lantaran isu tingkat persediaan karet yang tinggi di negara konsumen terutama Tiongkok. Apalagi, sektor karet kini ditempa isu produk ramah lingkungan.

Namun demikian, prospek industri agribisnis ini cukup menjanjikan melihat volume ekspor yang besar. Indonesia saat ini merupakan eksporter karet terbesar ke dua setelah Thailand. Pada 2013, sektor karet alam menyumbang 4,61 persen dari total ekspor nonmigas Indonesia yang mencapai USD 149,92 miliar. Data Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian menunjukkan produksi karet alam mencapai 3,2 juta ton sepanjang tahun lalu. Mayoritas sebanyak 84 persen atau 2,7 juta ton diekspor. Nilai ekspornya mencapai USD 6,91 miliar. Sementara sisanya, 500 ribu ton atau 16 persen diperuntukkan kebutuhan domestik.

Volume ekspor karet pada 2013 naik 260 ribu ton atau 10,7 persen dibandingkan 2012 yang hanya 2,44 juta ton. Sayangnya, nilai ekspor karet justru terkoreksi USD 950 juta menjadi USD 6,91 miliar pada 2013. Lebih rendah dibandingkan 2012 yang mencapai USD 7,86 miliar. Saat ini, negara tujuan utama ekspor karet adalah Amerika Serikat dengan volume 609,8 ribu ton (22,6 persen), diikuti Tiongkok sebesar 511,7 ribu ton (18,9 persen), dan Jepang 425,9 ribu ton (15,8 persen).

Dinas Perkebunan Sumsel mengimbau agar para petani karet yang ada di daerah membentuk satu pasar lelang karet guna meningkatkan harga jual karet milik petani khususnya yang berada di daerah. Melalui pasar lelang ini, diharapkan ke depan petani masih memiliki daya tawar yang tinggi meski harga komoditas sedang kurang bersahabat.

Disinggung mengenai bantuan yang diberikan oleh pemprov Sumsel, Anung mengatakan pemerintah sudah mengalokasikan anggaran baik melalui APBN maupun APBD Provinsi Sumsel untuk mendirikan pasar lelang. “Pemerintah bantu mendirikan bangunannnya, tetapi harus sesuai dengan kesiapan dan keinginan para petani,” katanya.

Anung menambahkan, berdasarkan data yang dimiliki oleh pihaknya, harga tertinggi karet petani yang dipasarkan melalui lelang antar koperasi unit desa (KUD) pada Senin (12/5) senilai Rp7.650 per kilogram. Harga tersebut mengalami penurunan dibandingkan periode sebelumnya yang mencapai Rp8.275 per kg. (gal/sof/iam/alk) 

LEAVE A REPLY