Harga Karet Naik, Hanya Dinikmati 25 Persen Petani

0
161
PETANI sedang menimbang getah karet hasil kebun sebelum dijual ke pedagang. Harga komoditas unggulan Sumatera Selatan ini belum menenui titik baiknya.

RADAR PALEMBANG – Kenaikan harga karet yang terjadi sejak beberapa bulan terakhir hanya dinikmati sekitar 25 persen petani Sumatera Selatan karena sebagian besar belum tergabung dalam Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar (UPPB).

Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Dinas Perkebunan Sumatera Selatan Rudi Aprian di Palembang, Selasa, mengatakan, saat ini Sumsel memproduksi 1.164.042 ton karet kering dari lahan seluas 1.311.422 hektare yang menanggungi kehidupan ekonomi 590.502 kepala keluarga. “Dari jumlah itu, Sumsel hanya memiliki 284 UPPB, bisa dikatakan baru 25 persen yang tergabung,” kata Rudi.

Padahal jika petani tergabung dalam UPPB maka harga jual getah karet akan dipatok lebih tinggi dibandingkan menjual ke pengepul, terdapat selisih sekitar Rp3.000—Rp4.000 per kilogram.

“Kini dengan harga karet kadar kering (KKK) 100 persen Rp.18.000/Kg sampai 19.000/Kg maka artinya di tingkat UPPB bisa dibeli Rp10.000/Kg sampai dengan Rp12.000/Kg untuk KKK 50 persennya,” kata dia.

Untuk membantu kesejahteraan petani itu, Pemprov Sumsel mendorong mereka bergabung di Unit Pengolahan dan Pemesaran Bokar (UPPB). Berbagai manfaat yang didapat petani karet selain harganya yang lebih tinggi, UPPB juga memperpendek rantai tata niaga karena menerapkan sistem Lelang 4S (Satu Desa, Satu mutu, Satu harga dan Satu hari lelang).

Hingga Desember 2020, jumlah UPPB yang sudah terbentuk di Provinsi Sumatera Selatan mencapai 284 UPPB, yang mana pada 2020 saja mampu membentuk 67 UPPB dari target 50 UPPB. Sementara pada 2021, Sumsel menargetkan penambahan UPPB sebanyak 75 unit.

Salah satu daerah yang tertarik membentuk UPPB yakni Kecamatan Nibung, Kabupaten Musi Rawas Utara, yakni di Desa Suka Makmur. Terdapat sekitar 100 petani karet yang berasal dari empat kelompok tani di daerah itu yang bergabung di UPPB tersebut.

Menurut Rudi, selisih harga karet yang bisa didapat petani di Nibung bisa mencapai Rp3.400 per kilogram jika menjualnya lewat UPPB ketimbang melalui pedagang pengumpul. “Artinya, jika petani panen 100 kilogram karet per minggu, maka ada selisih harga sebesar Rp340.000 per minggu atau dalam sebulan Rp1,36 juta,” kata dia.

Sementara itu, berdasarkan analisa Dinas Perkebunan Provinsi Sumsel, harga karet untuk kadar kering (KKK) 100 persen diperkirakan bakal bertahan di kisaran Rp18.000—Rp19.000 per Kilogram karena dipengaruhi sejumlah faktor terkini dalam perekonomian global sejak awal tahun 2021. (seg)

 

LEAVE A REPLY