Hafisz Tohir : Kenaikkan BBM Picu Makin Tajamnya Kesenjangan Sosial

0
747

 

RADAR PALEMBANG – Rakyat Sumsel sangat terpukul dengan naiknya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis premium dan solar. Harga kebutuhan melambung sementara penghasilan rumah tangga jauh berkurung akibat anjloknya sumber ekonomi utama mereka yakni karet dan sawit. Apalagi, untuk enam bulan ke depan, belum ada tanda-tanda harga komoditi akan stabil.

Menyikapi itu, Anggota DPR RI Dapil II Sumsel, Hafisz Tohir, mengaku sangat kecewa. Bagi rakyat Sumsel yang mengandalkan ekonominya kepada karet jelas akan menjadi pukulan berat. Kebijakan pemerintah itu akan mempertajam kesenjangan sosial di tengah masyarakat.

‘’Keputusan pemerintah untuk menaikkan harga BBM bersubsidi tidak beralasan. Dari segi harga minyak mentah dunia dan volume konsumsi BBM saat ini, maka bisa dipastikan anggaran subsidi tidak akan jebol. Jika harga minyak mentah dunia USD USD 80/barell maka harga pasar premium tanpa subsidi Rp 8.600 per liter,’’ungkap Ketua Komisi VI DPR RI Hafisz Tohir, kemarin.

Menurutnya, pemerintah harus menjelaskan secara transparan kepada publik alasan yang mendasari keputusan menaikkan harga BBM tersebut .”Harga minyak mentah dunia turun. Malah jauh di bawah asumsi APBN P. Asumsinya ada di angka 105 dolar perbarel, sedangkan saat ini saja harga minyak mentah sudah menyentuh angka 80 dolar perbarel,’’ ungkap dia, kamis (20/11)

Dilanjutkannya, pada aspek konsumsi juga tidak ada masalah. Konsumsi harian kita 3,8 juta kilo liter per bulan. Sampai akhir tahun ini diperkirakan hanya mencapai 45 juta kilo liter. Masih berada di bawah kuota yang ditetapkan 46 juta kilo liter.

‘’Oleh karena itu kami minta kejelasan dari pemerintah mengenai dasar keputusan kenaikan harga BBM tersebut. Pemerintah wajib menjelaskan secara transparan kepada masyarakat,’’ jelasnya

Dikatakan Hafisz dengan kenaikan BBM, berdampak pada perekonomian rakyat. Daya beli masyarakat akan semakin mendorong. Kondisi ini diperparah lagi, anjloknya harga-harga komoditas seperti sawit dan karet.

‘’Bisa dibayangkan, betapa berat beban rakyat akibat kenaikan harga BBM ini. Dapat dipastikan kenaikan BBM ini membuat masyarakat akan semakin sengsara,’’tambahnya.

Sementara itu, Anggota DPD RI asal Sumsel, Siska Marleni mengatakan, perekonmian Indonesia yang mengalami defisit ganda, yaitu defisit neraca dan defisit transaksi berjalan. ‘’Pemerintah beralasan kenaikan BBM untuk mengurangi beban subsidi yang tinggi. Itu suatu keniscayaan. Selama ini subsidi BBM tidak tepat sasaran sehingga pemerintah beralasan menaikan BBM,’’ jelasnya.

Namun, dengan kenaikan BBM, Siska berharap program pro rakyat yang harus diprioritaskan untuk kepentingan bangsa dan kesejahteraan. ‘’Pemerintah mesti melakukan perbaikan pelayanaan publik di semua tingkatan,’’ pungkasnya. (zar)

LEAVE A REPLY