Frustasi Pilih Merantau

0
159

Petani Karet dan Sawit di Sumsel

RADAR PALEMBANG – Belum adanya tanda-tanda akan membaiknya harga getah karet dan kelapa sawit di Bumi Serepat Serasan membuat banyak petani frustrasi, sebab dengan kondisi saat ini, penghasilan dengan pengeluaran jauh tidak sebanding. Imbas tidak sebandingnya pengeluaran dengan penghasilan yang lama dialami, banyak petani putus asa dan diantaranya nekat banting stir memilih merantau keluar daerah untuk mencari pekerjaan lain.

Tidak hanya banting setir dengan mencari penghidupan di tempat lain, banyak diantaranya menjual kebun karetnya untuk menutupi hutang akibat memenuhi kebutuhan hidup selama harga getah murah.

“Saat ini aku sudah di Jakarta, kerja di proyek konstruksi baja dengan gaji lumayan dibanding menyadap karet. Seluruh kebun aku jual karena selama di dusun, aku terlilit hutang rentenir,” ujar Tono, salah satu warga Kecamatan Talang Ubi, Selasa (13/8).

Sama halnya diutarakan Irul, warga Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) yang saat ini sudah berada di Pulau Batam berprofesi sebagai pengendara Ojek Online (Ojol).
“Kehidupan kami sedikit membaik setelah satu tahun lebih kami merantau. Anak-anak kami tinggal di dusun bersama orang tua kami, untuk kebutuhannya kami kirim biaya setiap bulannya. Kalau kami bertahan di dusun, mungkin kami tidak seperti ini. Dimana saat masih menyadap karet, untuk makan saja selalu kurang,” kata dia.

Cerita lain diutarakan Yadi, petani kelapa sawit yang membabat habis seluruh pohon kelapa sawitnya berganti tanaman karet, meski pun harga karet sama nasibnya dengan kelapa sawit, tetapi tanaman karet minim biaya perawatan. Selain itu diakuinya bahwa awalnya dirinya berniat menjual kebun yang dimilikinya, namun saat ini, harga kebun bukannya meningkat, malah anjlok.

“Baru kali ini harga tanah kebun setiap tahun turun. Padahal biasanya harga tanah makin hari kian naik. Dahulu saat harga sawit dan karet mahal, lahan kebun bisa mencapai Rp 100 juta/hektar, tapi saat ini mau jual Rp 60 juta/hektar susah sekali padahal kebun itu produktif. Untuk itu, kami putuskan kelapa sawit kami ganti karet, untuk meminimalisir biaya perawatan,” keluhnya.

Sementara itu, tidak ada kepastiannya harga karet di OKI sebagian masyarakat
mulai menjual kebun dan menebang tanaman karet tersebut dengan tanaman lain. “Susah pak sekarang harga karet terus anjlok, daripada menunggu tidak ada kepastian lebih baik di jual saja”ujar salah satu warga teluk gelam OKI Nudi, kemarin.

Dijelaskannya, petani sudah menunggu hingga beberapa tahun agar harga karet naik namun sayangnya hingga kini harga karet terus mengalami penurunan. “Hasil karet ini sudah tidak dapat memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari sementara harga kebutuhan terus menagalami kenaikan”keluhnya.

“Terpaksa kami jual dan buka usaha lain yang lebih menjanjikan seperti jualan alat-alat pecah belah, bisnis pakaian dan lain-lain yang lebih menguntungkan”ujarnya.
Senada juga dikatakan Hamid warga Lempuing OKI mengatakan jika saat ini sudah menebang karet menjadi tanaman lain seperti padi dan sayur-mayur.“Hasil ini jahulebih menjanjikan daripada karet dan sawit sebab dapat panen mingguan dan tengah tahunan”ujarnya.

“Ya pak jika sayur-mayur dapat panen 3 minggu hingga satu bulan, hasilnya dapat langsung dirasakan begitupun padi selain bekal hidup sisahnya dapat dijual langsung”ujarnya.

Akibat anjloknya harga karet ini, banyak petani terpaksa menjual lahan dan kebun karet dengan harga yang seadanya. Kebanyakan petani rela melepas kebunnya setengah harga dari biasanya.

Di Prabumulih misalnya, untuk satu hektar lahan flus kebun karetnya saat ini banyak dijual dengan harga maksimal Rp60 juta. Padahal normalnya untuk luas lahan seperti itu dengan kondisi karet yang masih produktif harga jualnya diatas Rp100 juta.

Lisa Fitriani petani karet asal Rambang Prabumulih mengaku menjual kebun karet karena produksi yang dihasilkan sudah tidak bisa memenuhi kebutuhan. Ditambahlagi saat ini sudah semakin sulit mencari ‘anak kapak’ untuk menyadap kebun.

“Saat karet mahal kami berkeinginan menyekolahkan anak keperguruan tinggi ternama. Kami pilih di Jogja, namun sekarang karet murah sementara kebutuhan kualiah anak harus terpenuhi terpaksa altrnatifnya jual kebun. Sebab jika tidak kulian anak bisa terbengkalai,” jelasnya.

Menurut Lisa, hal sepeti ini bukan dialami dirinya saja, sebab banyak petani karet lain yang terpaksa menjual lahan untuk kebutuhan sekolah anak. Malah ada yang lebih parah jual kebun untuk bayar utang dan memenuhi kebutuhan.

“Kondisi sekarang memang sedang paceklik. Bukan saja soal harga yang murah, namun masalah lain juga produksi getah sedikit karena faktor kemarau. Karet yang dihasilkan hanya setengah dari yang biasanya, sementara kebutuhan hidup tetap harus terpenuhi,” katanya.

Sementara itu, harga karet pada bulan Agustus makin anjlok. Kondisi ini tentu kian memperburuk kondisi ekonomi masyarakat. Ini membuat banyak masyarakat harus rela melepas lahan kebun karet untuk dijual demi menyambung hidup.

Berdasarkan data Dinas Perkebunan Provinsi Sumsel, pada awal bulan Agustus ini, tercat harga karet jatuh dibawah harga standar. Juli lalu harga karet untuk kader karet kering100 persen masih diatas Rp16 ribu, namun per kemarin, harga sudah jatuh diangka Rp15.646. Sementara untuk kadar karet kering paling rendah yakni 40 persen hanya Rp6.258.

Butuh Terobosan Baru      

DARMADI Suhaimi, Wakil Ketua DPRD PALI berkomentar bahwa memang untuk harga karet serta sawit bergantung pada pasar dunia. Tetapi dalam hal ini, Politisi PAN ini memberi saran agar pemerintah turun tangan dan memberikan intervensi.

Pemerintah juga dikatakan Darmadi bisa memberikan subsidi harga karet atau sawit, dimana lebih diutamakan pada karet, karena di PALI sebagian besar masyarakatnya menggeluti perkebunan karet.

“Caranya mudah, pinta data dari Disdukcapil, berapa KK yang berprofesi sebagai petani karet. Kemudian ajak lembaga survei untuk mengetahui berapa harga karet yang wajar, agar dengan harga karet tertentu petani aman untuk menutupi kebutuhannya,” beber Darmadi.

Selanjutnya diterangkan Darmadi, Perusda harus turun tangan dengan cara langsung membeli getah ke petani.

“Saat membeli getah, Perusda bisa menerapkan standar dalam pembelian getah petani agar bisa mendapatkan subsidi. Seperti getah harus bersih, masak getah harus pakai asam semut dan lain sebagainya. Dengan demikian, petani akan berlomba menjual getahnya ke Perusda yang disubsidi, karena subsidi bisa kita jalankan di PALI melalui APBD, sebab APBD juga untuk masyarakat,” tandas Darmadi

Pengurus Asosiasi Petani Karet Sumsel untuk daerah Ogan Komering Ilir M Anwar mengatakan, kondisi karet yang anjlok saat ini bukan saja menyebabkan petani kesulitan dari sisi ekonomi, namun mengakibatkan angka kriminal meningkat. “Urusan perut tentu tidak bisa ditunda, makanya kita butuh terobosan dari pemerintah kabupaten kota maupun pemerintah provinsi,” katanya.

PNS dilingkungan Pemkab OKI ini mengaku akibat kondisi karet yang terus turun petani terpaksa jual lahan dengan harga murah ketengkulak dan toke kampung. “Petani karet itu sumber penghasilannya hanya satu yakni getah, mereka tidak memiliki penghasilan sampingan seperti yang lain, makanya ketika harga terus jatuh seperti ini tidak ada alternatif lain selain jual lahan. Jika harus menanam yang lain tentu butuh waktu untuk mendapatkan hasil selama itu kita butuh uang untuk memenuhi kebutuhan hidup,” katanya.

Akibatnya banyak petani kita yang lebih memilih solusi cepat yakni jual lahan. Mereka sadar jual lahan itu beresiko sebab jika tidak ada lahan tentu tidak ada lagi yang digarap. “Ada juga anggota kita yang terpaksa angkat kami dari sini, mereka jual lahan sekaligus rumah dan memilih mencari tempat baru yang dinilai lebih menjanjikan,” katanya (whr/eml/iam)

 

LEAVE A REPLY