Ekonomi Mengerut

0
725

Hanya 4,77 Persen YoY

 

RADAR PALEMBANG – Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan ekonomi Sumsel melambat sebesar 4,77 persen di Triwulan I 2015, jika dibanding Triwulan IV 2014 yang tumbuh sebesar 5,96 persen. Manajer Analis Ekonomi dan Advisory Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah VII Palembang, Dhika AryaPerdana mengatakan, ada tiga sektor utama yang mengalami perlambatan membuat perekonomian Sumsel hanya mampu tumbuh 4,77 persen.

Di antaranya disumbang oleh, pertambangan dan penggalian, sektor industri pengolahan, dan sektor perdagangan besar maupun eceran, termasuk reparasi mobil dan sepeda motor. “Pada triwulan I, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menjadi satu-satunya sektor ekonomi utama Sumsel yang mengalami peningkatan. Meski harga komoditas masih anjlok nyatanya masih berkontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi Sumsel,” kata dia, Rabu (27/5).

Dijelaskannya, secara triwulan PDRB Sumsel pada triwulan I 2015 meningkat sebesar 0,56 persen dibanding kuartal sebelumnya. “Tapi jika dibanding periode sama tahun lalu ekonomi Sumsel tetap tumbuh. Kuartal I 2014 hanya mampu tumbuh 3,80 persen,” ungkapnya.

Sektor pertambangan, industri pengolahan, dan sektor perdagangan, mampu memberikan andil sebesar 1,46 persen. Tiga sektor utama lain yang mampu memberikan sumbangan terbesar beruturut-turut yakni sektor industri pengolahan 0,70 persen, sektor pertanian 0,58 persen, dan sektor perdagangan 0,56 persen. “Secara agregat andil yang diberikan empat sektor tersebut mencapai 3,29 persen,” tambahnya.

Akan tetapi, jika ditinjau dari pertumbuhannya sektor pengadaan listrik, gas dan sektor jasa pendidikan menjadi sektor yang tumbuh di atas 20 persen. Kemudian sektor lain yang mengalami pertumbuhan signifikan yaitu sektor jasa kesehatan dan kegiatan social sebesar 15,3 persen, lalu diikuti oleh sektor transportasi dan pergudangan yang tumbuh 11,1 persen. Namun, meski tumbuh tinggi sumbangsihnya terhadap pertumbuhan ekonomi Sumsel masih relatif kecil. “Kontribusinya hanya 0,90 persen,” ungkapnya.

Dilanjtkan Dhika, secara triwulanan, hampir seluruh sektor ekonomi mengalami pertumbuhan positif kecuali sektor konstruksi dan sektor perdagangan yang justru negatif. Masing-masing -5,96 persen dan -1,24 persen. “Pelemahan sektor kontruksi dipicu oleh siklus pembangunan proyek pemerintah yang belum optimal,” katanya.

Sementara sektor pertanian, khususnya sub sektor tanaman pangan tercatat tumbuh negatif. Hal tersebut ditenggarai belum masuknya masa panen oleh petani. Meski demikian secara umum sektor pertanian masih tumbuh sebesar 3,28 persen yang ditopang oleh hasil kelapa sawit. Dia menyebut, peningkatan sub sektor perkebunan tahunan khususnya kelapa sawit akibat adanya peningkatan ekspor kelapa sawit Sumsel pada triwulan I 2015 yang mencapai 97,18 juta ton atau tumbuh sebesar 468,52 persen (yoy).

Kenaikkan ekspor bersumber dari India dan Amerika Serikat. Peningkatan cukup signifikan terjadi di India disebabkan rape seed sebagai sumber minyak nabati yang turun akibat keterlambatan penanaman. “Seiring pertambahan penduduk permintaan minyak nabati di India juga naik, makanya India meningkatkan pasokan,” bebernya.

Sementara komoditas perkebunan lain yaitu karet hingga saat ini belum menunjukkan perbaikan. Total produksi karet Sumsel pada Triwulan I 2015 Sumsel sebesar 223,44 ribu ton atau turun sebesar -11,79 persen jika disbanding kuartal sebelumnya. “Rendahnya harga karet menjadi alasan petani enggan menyadap yang berimpact pada olahan bahan baku karet berkurang,” tuturnya.

Dijelaskan, meski sektor pertambangan dan penggalian memberikan andil perekonomian Sumsel paling tinggi mencapai 6,4 persen (yoy) pada Triwulan I 2015. Namun, secara triwulanan tetap melambat dimana pada triwulan IV 2014 mampu member andil sebesar 8,72 persen. BI mencatat, total produksi batubara Sumsel pada triwulan I 2015 mencapai 4,5 juta ton meningkat 49,06 persen (yoy). “Berdasarkan informasi liaison belum membaiknya harga batubara dunia masih berdampak minimal karena contack mengutamakan eskpor batubara berkalori tinggi yang harganya relative stabil,” tukasnya.

Sementara untuk batubara berkalori rendah diserap oleh pasar domestik untuk bahan Pembankit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Sementara ekspor hasil minyak Sumsel negative pengaruh dari rendahnya harga minyak dunia. ”Minyak dunia menyentuh US$50 per barrel atau terendah selama lima tahun terakhir,” tutur dia.

Sementara itu, dilihat dari sisi penggunaan pertumbuhan ekonomi Sumsel pada Triwulan I dipicu oleh melambatnya konsumsi rumah tangga dan turunny investasi. “Konsumsi rumah tangga mengalami perlambatan dari 5,66 persen menjadi 5,27 persen (yoy). Pangsa konsumsi rumah tangga mencapai 73,45 persen dari total PDRB membuat pertumbuhan konsumsi rumah tangga memberikan andil yang tinggi atau mencapai 3,41 persen,” pungkasnya.

Karet Rambah India dan Timteng 

Melemahnya ekonomi Sumsel, masih dirasakan pengusaha karet. Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Sumsel berharap, agar pemerintah dapat menyediakan pasar baru untuk dapat mendongkrak harga pasaran karet yang terus terpuruk.

Ketua Gapkindo Sumsel, Alex Kurniawan Eddy mengatakan, dengan jumlah pasar saat ini membuat tidak ada pilihan ekspor lain kecuali yang telah ada, meskipun harga karet murah. Menurutnya, India menjadi potensi besar untuk penjajakan pasar baru. Apalagi saat ini India adalah pengekspor karet terbesar nomor dua dunia setelah Tiongkok. “Kami belum ada kerjasama ke India secara langsung. Kemungkinan India dapat karet dari negara pengimpor atau negara penghasil karet lain,” kata dia, Selasa (26/5).

Selain India, kata dia, beberapa negara juga belum tergarap seperti Timur Tengah dan Afrika, kecuali Afrika Selatan. Padahal, di sana banyak membutuhkan bahan baku karet untuk produksi ban dan sebagainya. “Kami berharap pemerintah untuk mendorong melakukan kerjasama supaya bisa meningkatkan daya jual,” ungkapnya.

Minimal, bisa menjadi pilihan ekspor. Sebab, jika hanya satu tujuan harga karet juga bisa ditentukan oleh demand. “Jika stok banyak, otomatis mengurangi jumlah belanja. Berimbas pada harga,” tambahnya.

Alex mengaku, tahun 2014 total produksi karet Sumsel sebanyak 800 ribu ton, menurun jika dibanding 2013 mencapai 1,1 juta ton. Hal tersebut ditenggarai petani karet banyak stop memproduksi karena hasil yang didapatkan tidak sesuai dengan tenaga dikeluarkan. “Untuk sementara waktu petani karet mungkin beralih profesi dahulu sampai harga kembali normal,” tuturnya. Maka dari itu, pihaknya berharap pemerintah dapat menemukan solusi untuk mengkerek harga karet. Sebab jika seperti ini pihaknya khawatir petani karet tidak mau lagi memproduksi.

Sementara itu, Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri Desperindag Sumsel, Ahmad Mirza menambahkan, pihaknya terus berupaya mencari pasar baru ekspor komoditi Sumsel. bahkan pihaknya berencana menitipkan sample-sample komoditi andalan Sumsel ke Kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di luar negeri. “Kami juga terus mempromosikan komoditi andalan keluar negeri baik melalui internet maupun fisik barang,” ungkapnya. (tma)

 

LEAVE A REPLY