Ekonomi Masuk Fase Positif

0
722

RADAR PALEMBANG – Pertumbuhan ekonomi Sumsel pada triwulan II 2014 masih melambat menjadi 5,4% (yoy) dari triwulan sebelumnya sebesar 6,2% (yoy). Perlambatan tersebut disebabkan oleh melambatnya konsumsi rumah tangga dan ekspor, sejalan dengan perlambatan sektor utama Sumsel yang diakibatkan belum pulihnya harga komoditas internasional.

Secara sektoral, perlambatan terutama terjadi pada sektor pertanian serta sektor pertambangan dan penggalian. Namun demikian, perlambatan tersebut masih tertahan oleh kinerja sektor industri pengolahan dan sektor perdagangan, hotel, dan restoran (PHR) yang masih tumbuh cukup signifikan.

Menurut kajian Bank Indonesia Wilayah VII Palembang, pada triwulan III 2014, perekonomian Sumatera Selatan diperkirakan mulai mengalami perbaikan pada kisaran 5,5 – 5,9% (yoy). Perbaikan tersebut diperkirakan didukung meningkatnya konsumsi masyarakat dan mendorong sektor PHR tumbuh tinggi.

“Meningkatnya konsumsi rumah tangga tersebut terindikasi dari Indeks Keyakinan Konsumen yang meningkat selama triwulan III 2014. Sementara itu, sektor utama Sumsel, yaitu sektor pertanian dan sektor pertambangan dan penggalian, diperkirakan masih tumbuh terbatas akibat harga yang masih belum menunjukkan perbaikan yang signifikan,” kata R Mirmansyah Kepal Perwakilan Bank Indonesia Wilayah VII Palembang.

Dari sisi sektoral, pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan triwulan III 2014 diperkirakan masih didukung peningkatan sektor PHR. Hal tersebut seiring dengan peningkatan konsumsi masyarakat pada perayaan Idul Fitri.

Selain itu, adanya event-event seperti MTQ internasional dan 16th Kongres Nasional Ilmu Kesehatan Anak (KONIKA) diperkirakan meningkatkan konsumsi Sumsel. Di sisi permintaan, selain meningkatnya konsumsi masyarakat, pertumbuhan investasi diperkirakan meningkat.

Pasca ditetapkan Tanjung Api-api (TAA) sebagai Kawasan Ekonomi Khusus, diperkirakan akan dilakukan pembangunan infrastruktur dan fasilitas pendukung pengembangan kawasan industri di kawasan TAA tersebut.

Sektor utama Sumsel, yaitu, sektor pertanian dan sektor pertambangan dan penggalian diperkirakan melambat. Tabama memasuki masa tanam. Subsektor perkebunan khususnya karet juga masih menghadapi tekanan harga, sehingga mengurangi motivasi pekebun untuk melakukan penyadapan.

“Di sisi lain, sektor pertambangan dan penggalian diperkirakan juga masih melambat sebagai dampak sementara penertiban izin usaha penambangan dan penertiban kegiatan ekspor,” ujarnya.

Ditambahkan lagi, pemerintah menetapkan bahwa ekspor batubara dapat dilakukan oleh penambang yang terdaftar sebagai Eksportir Terdaftar (ET), sehingga diperkirakan menekan produksi batubara terutama eksportir. Namun demikian, komitmen PLN untuk memanfaatkan batubara sebagai sumber energi diperkirakan dapat menahan perlambatan lebih dalam lagi. Perlambatan sektor utama ini diperkirakan turut mempengaruhi sektor industri pengolahan.

Berdasarkan capaian ekonomi hingga triwulan II 2014 ini, perekonomian Sumsel tahun 2014 diperkirakan mengalami koreksi atau pada kisaran 5,6-6,2%, lebih rendah dibanding perkiraan sebelumnya. Hal tersebut disebabkan oleh melambatnya kinerja sektor utama khususnya pertanian dan industri pengolahan. Perbaikan ekonomi global diperkirakan tidak secepat perkiraan sebelumnya, karena perbaikan harga komoditas belum signifikan. (iam)

 

LEAVE A REPLY