Dinsos dan Forum CSR Sumsel Temu Koordinasi Dunia usaha dan Lembaga Amil Zakat

0
796

 

 

RADAR PALEMBANG,  Dinas Sosial Bersama Forum Corporate Social Responsibility (CSR) Kesos Sumatera Selatan mengadakan temu koordinasi potensi dunia usaha dengan perusahaan dan Lembaga Amil Zakat, Selasa (25/6) di Hotel Grand Inna Palembang. Acara ini dipandu oleh Ketua Forum CSR Kesos, J Rianthony.
Dalam paparannya, J Rianthony mengatakan bahwa di Sumatera Selatan banyak perusahaan baik BUMN, BUMD dan swasta. Namun dalam pantauan forum CSR, baru BUMN dan BUMD yang terlihat menyalurkan dana CSR dan dana sosial.
“Perusahaan swasta saat ini masih ngeles kalo diminta laporan penyaluran dana CSR. Beda dengan BUMN seperti PT Bukit Asam, PT Semen Baturaja, PT Pegadaian, karena harus ada implentasi. Namun itu kebijakannya terpusat, sedangkan yang BUMD seperti Bank Sumselbabel lebih mudah mengeluarkan karena ada permintaan dari Gubernur,” ujarnya.
Adapun program Forum CSR Kesos sejak dibentuk tahun lalu, lanjut dia, yaitu one day one thousand, berupa kotak amal atau barcode yang diletakan di perusahaan dan bank sehingga memudahkan bagi karyawan maupun nasabah bank dalam berbagi. Selain itu juga mengimbau kepada karyawan perusahaan, untuk ikut serta menyisihkan Rp 1.000 untuk program forum CSR.
“Koordinasi ini bertujian agar bisa memaksimalkan dana CSR perusahaan untuk dunia usaha UMKM. Jadi ada sinergi antara perusahaan, Forum CSR dan masyakat dalam mengentaskan kemiskinan,: tambah J Riantony.
Dalam sesi diskusi banyak peserta yang antusias menanggapi dan memberi masukan, baik perusahaan maupun Lembaga Amil zakat. Salah satu yang disorot, adalah wilayah Kertapati yang sulit dibina karena dikenal “keras”.
Sumedi dari Rumah Zakat dalam diskusi tersebut menyampaikan bahwa didalam setiap penyaluran dana sosial harus juga ada pembinaan agama. Sehingga selain diberi bantuan, penerima juga akan mendapatkan pembinaan agama.
“Rumah Zakat selama 2018 hingga 2019 telah melakukan pemberdayaan desa, contohnya di Muara Enim ada Komunitas Pemuda Hijrah. Dimana dahulu sebelum dibina Rumah Zakat, para pemuda nongkrong mabuk-mabukan. Namun setelah ada pembinaan agama dan ekonomi berupa budidaya lele, mereka berubah baik dan sholeh,” tuturnya.
Jadi, lanjut dia, di wilayah Kertapati yang dibilang keras pun pembinaan juga mungkin dilakukan. Karena jika pembinaan dilakukan dengan keroyokan, maka wilayah itu bisa lebih baik, baik dari segi ekonomi, maupun akhlaknya. “Perusahan disana bantu di dana usaha, sementara Lembaga Amil Zakat support pembinaan agama,’’ tukasnya.(rel)

LEAVE A REPLY