Di Atas Rp 250 Ribu Permeter Persegi

0
529

 

+ /Harga Tanah Palembang

 

 

RADAR PALEMBANG Palembang sudah menjadi kota besar. Harga tanah pun naik setiap tahun. Walaupun pemerintah menetapkan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) yang tidak berubah dalam periode tahun tertentu. Namun harga tanah kota ini berubah gila-gilaan. Rata-rata di atas Rp 250 ribu permeter persegi.

PALEMBANG, RP –Begitulah gambaran yang terjadi di Kota Palembang saat ini, akibatnya sejumlah pengembang perumahan kesulitan mencari lahan.

Ketua Real Estat Indonesia (REI) Sumsel, Harriadi Benggawan mengatakan, sudah sulit dan hampir tidak ditemukan lagi harga lahan di bawah Rp 100 ribu per meter persegi di Kota Palembang saat ini. Meskipun lahan tersebut berada di pinggir kota.

“Contohnya di daerah Talang Jambe, Kecamatan Sukarame saja, meski daerahnya cukup jauh dari pusat kota tapi harga tanahnya rata-rata sudah di atas Rp 250 ribu permeter persegi,” katanya, belum lama ini.

Apalagi, jika lahan tersebut berada lebih dekat dengan pusat kota. Maka harga tanah yang akan didapati bias diatas Rp 500 ribu bahkan hingga jutaan untuk per meter perseginya.

Menurutnya, harga jual tanah, khususnya di wilayah perkotaan ini memang relatif lebih mahal jika dibandingkan di daerah lain. Maka dari itu, imbasnya ke pengembang akan kesulitan untuk mencari lahan yang cocok untuk dikembangkan menjadi rumah sederhana. “Kalau pun ada pengembang yang membangun perumahan kategori rumah sederhana dengan tipe 45. Harga jualnya tentu sudah tinggi rata-rata di atas Rp 250 juta,” katanya. Hal itu dilakukan untuk menyesuaikan perhit\ungan yang didapat berkisar 20-30 persen.

Apalagi kalau untuk rumah bersubsidi yang notabenya telah ditetukan oleh pemerintah maksimal Rp 123 juta. Tentu dengan harga demikian dirasa tidak mungkin untuk mengembangkan rumah bersubsidi lagi di area perkotaan untuk saat ini.

Tapi, kalau memang ditujukan untuk pembanguan rumah mewah lahan diperkotaan seperti Palembang saat ini dirasa masih cukup terjangkau. Namun, masalahnya saat ini rumah mewah sedang kehilangan pasar.

Maka dari itu, kini banyak pengembang yang melirik sejumlah daerah lain di luar Palembang. Seperti Lubuklinggau, alasanya selain masih banyak lahan strategis yang harga belinya di bawah Rp 100 ribu permeter, daya beli masyarakat di daerah tersebut juga terbilang cukup baik dua tahun belakangan.

Dipengaruhi Pembangunan Inrastruktur

Senada, Direktur PT Bangun Cakra Mandiri, Andi Sampura Salam mengatakan, peningkatakan harga tanah atau lahan di Kota Palembang mengalami perubahan yang sangat cepat. Factor utamanya yang menyebabkan hal tersebut menurutnya, pembangunan infrastruktur di sekitar, dan tingkat kepadatan penduduk yang telah mendiami wilayah tersebut. “Kalau akses jalan, pasar, terminal atau sejumlah fasilitas infrastruktur lainya telah dibangun di suatu area misalnya. Otomatis harga lahan di daerah tersebut juga akan mengalami peningkatan harga,” katanya.

Ditambah lagi dari sudut pandang kepadatan penduduk. Artinya, semakin ramai wilayah tersebut ditempati, maka secara otomatis akan turut mempengaruhi harga jualnya. “Contonya di daerah Mata Merah, Kalidoni. Dulu harga tanah di wilayah tersebut bahkan masih ada yang dibawah Rp 50 ribu per meter persegi. Tapi selang beberapa tahun kemudian melonjak tiga hingga empat kali lipat,” katanya.

Dengan kondisi harga tanah yang seperti ini, wajarlah banyak pengembang yang lebih memilih berinvestasi untuk rumah non subsidi. Hal tersebut dilakukan untuk memperhitungkan pengembalian modal dan untung yang didapat dari penjualan rumah.

Bisa dibayangkan, untuk membeli lahan saja sudah mengeluarkan biaya yang besar, belum lalgi biasa untuk kepengurusan perizinan dan sebagainya. Sementara harga jual rumah bersubsidi dibatasi, maka berapa lagi keuantungan yang bias didapat. “Tapi kalaupun ada yang membangun rumah bersubsidi. Biasanya pengembang tersebut menggunakan system subsidi silang, artinya pendpatannya dapat ditutupi dari hasil penjualan rumah lainya yang non subsidi,” katanya. (tma)

 

 

LEAVE A REPLY