Dewan Menilai BOT Pasar 16 Sia-Sia

0
7191

 

 

RADAR PALEMBANG, RP- Program walikota Palembang yang menginginkan palembang bersih nampaknya tak berjalan dengan maksimal, Buktinya tumpukan sampah masih saja ditemui di Pasar 16 Ilir tepatnya di lantai 5. tumpukan sampah yang berasal dari bekas pakaian, plastik, botol dan sampah lainnya menumpuk sehingga menyebabkan bau tidak sedap menyebar.  Sangat disayangkan keadaan ini terjadi di pasar 16 ilir yang sangat terkenal dengan pasar tradisional di Kota Palembang. bahkan sampah ini dibiarkan saja menumpuk hingga beberapa minggu. tak hanya itu saja, lantainya ini juga sangat penuh dengan kotoran sehingga pengujung tidak nyaman untuk menginjakan kaki.  Kendati pedagang sudah membayar uang retribusi sebesar Rp 7ribu perhari namun sampah tak kunjung hilang, alhasil pedagang hanya bisa pasrah menerima bauk tak sedap yang di akibatkan oleh tumpukan sampah tersebut. Dengan tidak terurusnya pasar 16 Ilir yang kini masih dalam pengelolaan PT Gandha Tahta Prima (GTP) itu. Hal inilah yang semakin memperkuat Pemerintah Kota Palembang mengambil alih kembali dari Build Operation and Transfer (BOT) PT GTP.

Lantaran Pasar 16 Ilir masih dalam pegangan PT GTP, Komisi II DPRD Kota Palembang menegaskan bahwa perawatan dan mempercantik pasar adalah tanggung jawab GTP sebagai pihak ketiga pengelola pasar. Sampah yang tak diangkut dan dibersihkan bertolak belakang juga dengan iuran retribusi yang dibayarkan para pedagang di pasar itu.

 

Salah seorang pedagang di Pasar 16 Ilir, Kusnadi mengatakan, sampah tersebut memang sudah beberapa hari bahkan terhitung minggu tak diangkut oleh pengelola pasar, sehingga sampah menumpuk di pinggiran bagian samping kanan atas pasar.

 

“Ya memang cukup kurang nyaman, apa lagi pengunjung pasar ini bukan hanya warga Palembang, ada juga yang dari luar. Posisi sampah di samping itu terlihat oleh pengunjung,” ujarnya jumat (8/12)

 

Sementara salah seorang pedagang lainnya, Krisna mengatakan, retribusi pasar 16 dibayarkan setiap hari. Baik itu untuk keamanan pasar maupun kebersihan. “Tiap hari bayar total untuk retribusi sekitar Rp12.000, macem-macem ada juga yang diminta sehari cuma Rp7.000,” katanya.

 

Ketua Komisi II DPRD Kota Palembang, Candra Darmawan mengatakan, PT GTP harus bertanggung jawab penuh terhadap perawatan Pasar 16 Ilir. Ia menilai, BOT yang dilakukan selama ini sia-sia lantaran tidak ada pembangunan apa pun di pasar itu yang semestinya sudah dilakukan.

 

“Jika sampah berserakan apalagi bau, ini artinya perawatannya kurang baik dari PT GTP, mereka harus tanggung jawab sepenuhnya sesuai dengan kontrak BOT bahwa Pasar 16 Ilir dan Kuto pengelolaannya menjadi tanggung jawab GTP,” tegasnya.

 

Chandra meminta PT GTP jangan banyak alasan dan mengelak untuk mempercantik pasar selama belum resmi BOT diputus oleh Pemkot Palembang. “Jika GTP itu memang tanggung jawab, mereka pasti akan percantik dan mengelola dengan baik, tidak perlu banyak alasan apa pun, jika selama itu tanggung jawab mereka ya pasti mereka rawat dengan baik,” katanya.

 

Akibat tidak dikelola dengan baik dan banyak persoalan lain yang dipertimbangkan, maka DPRD pun sejak lama merekomendasikan agar Pemkot Palembang segera mengambil alih pengelolaan dua pasar itu. “Kami ingin sepenuhnya segera dialihkan pengelolaannya oleh pemkot. Sebab, selama ini seharusnya selama kontrak berlangsung Pt GTP melakukan beberapa pembangunan, nyatanya tidak ada pembangunan apa pun di pasar itu, pasar masih seperti itu saja,” pungkasnya.(spt)

LEAVE A REPLY