Daya Beli Rendah, Investasi Layu

0
117

RADAR PALEMBANG – Penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia, pekan lalu memang diperkirakan akan memberikan efek positif bagi sektor pembiayaan, harapan otoritas suku bunga pinjaman juga turun. Imbasnya banyak pelaku usaha akan menambah portofolio investasinya melalui kredit perbankan.

Namun, diharapkan jangan terlalu euphoria atas kebijakan penurunan BI rate tersebut. Banyak persoalan ekonomi pelik harus segera dicarikan solusinya. Percuma investasi pengusaha bertambah, untuk meningkatkan kapasitas produksinya tapi daya beli belum membaik.

Hal ini diingatkan Pengamat Ekonomi dan juga Direktur MM Universitas Tridinanti Palembang, Prof H Sulbahri Madjir. “Meningkatkan daya beli masyarakat itu persoalannya. Daya beli masyarakat rendah maka investasi akan layu,”tegas dia kepada Radar Palembang.

Seperti diketahui, efek dari BI rate diturunkan sebesar 25 basis poin (bps). BI 7 Days Repo Rate kini menjadi 5,75% juga akan menjadi pertimbangkan oleh industri keuangan merivisi lending rate dan funding rate-nya. Tentunya, perbankan juga akan berimbas ke lebih leluasanya lembaga keuangan tersebut menjalankan fungsi intermediasinya.

Baca Juga : OJK Optimis Kredit Bakal Tumbuh

Melalui, dana yang terhimpun baik melalui tabuangan, deposito hingga giro akan berpeluang terserap lebih besar dibandingkan sebelumanya. Apalagai, BI atau Bank Indonesia sudah 8 bulan menahan suku bunga acuannya. Ini akan menarik minat pengusaha untuk menaikan porsi pembiayaannya.

Tujuannya, untuk meningkatkan kapasitas produksi usaha yang dijalankan. Namun, itu akan menjadi masalah, jika daya beli masyarakat masih belum pulih. “Bagaimana pun akan ada hasil produksi (hasil investasi,red) tapi siapa yang akan mau beli (daya beli rendah,red),”kata dia.

Karaena itu, Prof Sulbahri mengusulkan, baiknya arah inveastasi yang akan dilakukan pelaku usaha berkaitan dengan kedekatan bahan baku. Jelas, strategi itu akan memangkas biaya produyksi, khususnya biaya pengangkutan bahan mentah ke pabrik, sehingga hasil produksi dijual dengan harga bersaing.

Selain itu, juga akan meningkatkan pendapatan pekerja. Maka daya beli lambat laun akan meningkat, sehingga hasil produk abarang dan jasa dari investasi melalui pinjaman perbankan terserap oleh masyarakat.

“Investasi itu ada hubungannya (penggunaan,red) dengan bahan baku di dalam negeri dan menggunakan pekerja dari dalam negeri sehingga meningkatkan daya beli masyarakat,”tegas Prof Sulbahari. (dav)

 

LEAVE A REPLY