Dari Kamar Tidur Tembus Pasar Dunia

0
288

 

+ Catatan Kunjungan Media ke Pabrik Technoplast

 

 

RADAR PALEMBANG, Technoplast kini sudah menjadi salah satu brand ternama produk barang plastik kebutuhan rumah tangga. Setidaknya, ada 8.000 pcs (buah) dicetak per hari, atau 8 juta pcs per tahun. Siapa sangka, industri yang sudah menembus pasar dunia itu bermula dari kamar tidur.

Ali Syahbana – TANGERANG

            Pabrik Technoplast berdiri megah di kawasan industri Cikupa, Tangerang, Indonesia. Bangunan pabrik itu berdiri di atas lahan 22.000 m3, yang terdiri dari tiga lantai. Lantai pertama, berupa pengelolaan bahan baku, lantai kedua merupakan pusat produksi, dan lantai ketiga menjadi gudang tempat penyimpanan produk yang telah dihasilkan dan siap untuk dipasarkan.

Selain menjadi tempat industri, bagian depan pabrik juga ada empat lantai yang letaknya menyatu dengan pabrik. Di gedung ini, menjadi pusat perkantoran, laboraturium, desainer, promosi, dan juga tempat pertemuan. Sementara keseluruhan pabrik berada di satu lokasi yang dipagar tinggi, sehingga benar-benar aman.

CEO Technoplas Sjamsoe Fadjar Indra bertutur bahwa dia memulai usaha ini dari nol. Tidak ada yang menduga bila awal memulai usahanya dimulai dari kamar tidur. Sedangkan produk pertama yang dia buat berupa nampan. “Saya bersama saudara-saudara saya yang memulainya. Kami pertama sekali memulai usaha dengan memproduksi nampan,’’ seloroh sosok yang akrab disapa Fadjar ini.

Fadjar mulai bercerita, bila usahanya dimulai justru ketika terjadi krisis ekonomi pada tahun 1997-1998. Saat itu, banyak sekali industri yang kolaps, termasuk pabrikan plastik. Karena tutup, lalu banyak kalangan pengusaha yang melelang asetnya. Saat itu pula, ada sejumlah pabrik yang menjual mesin industrinya.

“Saya ingat, ketika itu kita membeli delapan buah mesin dengan harga yang sangat murah. Lalu kita berpikir, lho ini peluang dan kenapa tidak industri ini saja yang kita geluti. Setelah mendapat inspirasi dengan berkunjung pada sejumlah pabrik yang ada, kita mulailah melakukan usaha,’’ urai Fadjar.

Untuk menjadikan usaha lebih kuat, Fadjar bersama saudaranya Sjamsoe Tahar Indra dan satu orang lagi saudara lainnya, lalu membuat perusahaan PT Trisinar Indopratama dengan nama brand produk Technoplast. “Nama perusahaan itu punya filosofis bahwa usahanya dilakukan oleh kita tiga suadara, Indopratama kita ingin agar usaha yang kita jalani menjadi usaha nomor satu di Indonesia,’’ tandas Fadjar.

Kini, usaha yang dimulai tiga saudara ini sudah bukan lagi industri rumahan tetapi telah menjadi pabrikan besar. Saat ini, pabrik sudah memiliki 40 mesin injection (pencetakan produk), 18 mesin decoration (untuk mempercantik produk), dan 6 blow mold. Bahkan, saat ini baru saja ditambah satu mesin injection yang kapassitasnya cukup besar.

“Saat ini, kita memperkerjakan setidaknya 700 karyawan. Kebanyakan memang perempuan, namun kita telah menerapkan K3 (kesehatan dan keselamatan kerja) pekerja. Kita tidak membeda-bedakan ras, agama, dan suku. Semuanya pekerja kita perlakukan profesional, siapa yang berprestasi berpeluang untuk dipromosikan. Demikian hak-hak pekerja perempuan, semua aturan Disnaker berupa cuti melahirkan, jaminan kesehatan, dan lain-lain sudaha kita ikuti. Bahkan, para pekerja ini kita bagi 3 shif, sehinga jam kerjanya sesuai ketuan,’’ uarai GM Manufacturing Technoplast Hartadi Alamsyah.

Menyangkut produk, pihaknya menyasar ibu rumah tangga dan keluarga. Misalnya saja botol isi ulang untuk minumaan, tempat makanan, dan beragam vairan lainnya. Semula, Technoplast memegang 70 lisesnsi produk dunia, dan kini masih ada 50 lisensi. Mulai dari merek Dora Emon, Hello Kity, hingga produk kekian Marvel.

Soal keamanan produk, Hartadi memastikan konsumen tidak perlu takut. Selain tidak mudah luntur, tidak mengandung zat berbahaya (racun), dan standarnya benar-benar teruji karena sudah diteliti di laboraturium. Secara legal formal, berbagai standarisasi sistem produksi di pabrik sangat terjaga dan dapat dipertanggungjawabkan. Karena sudah mendapat ISO 9001, WCA, dan Technoplast merupakan produsen plastik pertama yang menerapkan standar SNI.

“Soal lingkungan kami juga sangat peduli. Misalnya soal limbah, kita tidak langsung membuang, melainkan menyerahkannya pada pihak ketiga untuk bisa didaur ulang. Demikian juga kepedulian terhadap masyarakat sekitar, kita punya progam CSR yang ditujukan untuk membantu warga sekitar pabrik,” tukas Hartadi.

Tentang pemasaran, Director of Marketing and Sales Ellies Kiswanto menambahkan, bidikannya memang para ibu rumah tangga. Namun kedepan, akan terus dikembangkan dengan menerapkan digital marketing. Untuk semester pertama 2018, produksnya meningkat 4 persen, dengan penyebaran merata ke seluruh Indonesia dan mancanegara. Produk yang dihasilkan 8.000 pcs per hari, 1,8 juta pcs per bulan dan 8 juta pcs per tahun dengan beragam jenis produk rumah tangga berbahan plastik.

“Saat ini, sebesar 70 persen produk kami memang untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri. Sisanya 30 persen kami impor pada negara-negara yang banyak membutuhkan produksi plastik, seperti Timur Tengah, Afrika, hingga Amerika Latin. Karena negara tersebut, panas dan membawa air dari rumah. Airnya umumnya kotor. Sehingga, negara yang sungainya bersih atau cuaca dingin seperti Eropa, jarang menggunakannya,” tutur Ellis.

Visit Media

            Untuk melihat secara utuh kegiatan yang dilakukan Technoplast, untuk pertamakalinya sejak berdiri 20 tahun silam pihak manajemen melakukan acara Technoplast Factory Visit dengan tema Be Global with Local ptensial. Dalam kegiatan ini. Melibatkan 40 media dari penjuru tanah air, termasuk dari Jakarta sendiri. Dengan dipandu oleh jajaran manajemen, para jurnalis diajak secara detil melihat langkah demi langkah mulai dari pengolahan bahan baku hingga pengepakkan.

Jurnalis dibagi dalam dua tim, dengan masing-masing sejumlah pemandu. Tour diawali dengan melihat pengelolaan bahan baku pada lantai pertama. Terlihat, hampir semua kegiatan sudah profesional dengan sistem komputerisasi. Terlihat, bahan biji palstik diolah dan dilebur dengan berbagai bahan sehingga sesui dengan jenis produk yang akan dihasilkan.

Pada tingkatan ini, wartawan hanya bisa melihat dari kejauhan karena untuk keamanan para jurnalis sendiri. Lalu, setelah bahan baku dikolela, para jurnalis diajak ke lantai dua dengan melihat secara langsung proses produksi berupa pencetakan produk. Pada lantai ini, terlihat pekerja tengah sibuk untuk mencetak barang-barang jadi, yang kemudian diberikan pada divisi dekorasi untuk diberiakan warga dan gambar sesuai desain kekinian.

Yang menarik, dalam pencetakan ini selain secara manual juga dilakukan dengan robot. Semuanya bekerja secara otomatis, dan para pekerja tinggal mengontrol jenis produk dan kualitasnya. Setelah selesai prosoes dekorasi, baru kemudian diberikan pada divisi pengepakan untuk ditempatkan di gudang dan siap dipasarkan.

Yang menarik, awak media juga diajak melihat Quality Control di laboraturium. Di laboruturium ini, wartawan secara langsung melihat sejumlah pengujian. Baik menyangkut ketahanan produk, maupun menyangkut tingkat keamanan untuk para konsumsen.

“Dengan kunjuangan pabrik semacam ini, kita jadi tahu bagaimana produksi Technoplast. Selain menambah wawasan, kita juga tahu bahwa memang produk ini layak untuk digunakan oleh para ibu-ibu di Indonesia,’’ kata salah seorang waratawan. (*)

 

LEAVE A REPLY