Ceng Beng, Penghormatan pada  Para Leluhur

0
286

 

 

RADAR PALEMBANG,  Meski tidak meriah seperti dua tahun sebelumnya, ada  beberapa warga Tionghoa  dengan menerapkan protocol kesehatan yang ketat tetap melakukan ritual Ceng Beng di pemakaman Tionghoa Talang Kerikil dan Soak Minggu (4/3/2021)

“Iya kita terakhir melakukan ritual Ceng Beng tahun 2019 sedangkan ditahun 2020 tidak dilakukan. Tahun ini kita lakukan  ritual ceng Beng  cuma tidak banyak orang hanya diwakilkan  keluarga di Palembang yang dari luar kota tidak datang,”ungkap Tjik Harun, ketua Walubi Sumsel saat dibincangi kemarin.

Menurut Harun, Ceng Beng merupakan ritual rutin yang digelar masyarakat Tionghoa hampir diseluruh dunia termasuk Sumsel dan Palembang. “Ritual ini pada tahun ini jatuh pada tanggal 4 Bulan April,”ucapnya.

Harun menerangkan, Ceng Beng adalah salah satu dari 24 Jieqi yang ditentukan berdasarkan posisi bumi terhadap matahari. Pada Kalender Gregorian awal (bukan akhir!). “Bila kita artikan kata Ceng beng, maka Ceng berarti cerah dan Beng artinya terang sehingga bila digabungkan maka Cengbeng,”ujarnya.

Menurut  Harun, sejarah Ceng beng yang dimulai pada dinasti Zhou, awalnya tradisi ini merupakan suatu upacara yang berhubungan dengan musim dan pertanian serta pertanda berakhirnya hawa dingin (bukan cuaca) dan dimulainya hawa panas.

Pada dinasti Tang, hari ceng beng ditetapkan sebagai hari wajib untuk para pejabat untuk menghormati para leluhur yang telah meninggal, dengan mengimplementasikannya berupa membersihkan kuburan para leluhur, sembahyang dan lain-lain.

“Di dinasti Tang ini, implementasi hari ceng beng hampir sama dengan kegiatan sekarang, misalnya seperti membakar uang-uangan, menggantung lembaran kertas pada pohon Liu, sembayang dan membersihkan kuburan,”jelasnya. (sep)

LEAVE A REPLY