Cegah Klaster Baru di Kampus, Kampanyekan Hasil Penelitian Covid-19 dari Perguruan Tinggi

0
130

RADAR PALEMBANG – Kampus diharapkan tidak menjadi klaster baru penyebaran Covid-19. Karena itu, komunikasi menjadi sangat penting dalam menyampaikan pesan publik agar masyarakat disiplin menerapkan protokol kesehatan. Upaya itu dapat dilakukan hubungan masyarakat (humas) perguruan tinggi. Bukan hanya itu, hasil penelitian akademisi sebagai bagian dari pentahelix pun menjadi salah satu penentu validitas data penyampaian Covid-19.

“Mendikbud mengimbau agar nanti kampus tidak menjadi klaster baru. Saat ini kita menghadapi sistuasi di tengah masyarakat digital. Belum layak seratus persen pendidikan (online) karena selama ini tatap muka. Kita kehilangan suatu proses pembelajaran. Jangan sampai dipaksakan justru nanti menimbulkan klaster baru,” ungkap Prof Dr Widodo Muktiyo, Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik (IKP) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemen Kominfo), saat menjadi keynote speaker pada webinar yang digelar Perhumas, Kamis (10/9).

Menurut Prof Widodo, pihaknya memberi kesempatan bagi perguruan tinggi untuk melakukan penelitian terkait Covid-19. “Saya kampanyekan IKP Kemen Kominfo menggelar karpet merah (agar kampus) melakukan penelitian. Kami tidak mau penelitian dari internal kami. DPR sangat senang karena datanya dari kampus,” tegasnya.

Dalam demokrasi, lanjut Widodo, ada nomeklatur yang sangat kompleks. Dalam komunikasi pun ada kepentingan. Masyarakat yang tidak belajar komunikasi tidak paham. Konteks mengikuti pesan yang ada. “Sama halnya dengan kampus yang menyajikan fakta dan data,” jelasnya.

Widodo menambahkan, peran humas menentukan institusinya. Kreativitas dan inovasi menjadi keunggulan. Kalau bagus dianggap biasa. “Jangan menunggu arahan pemerintah. Kampus harus out of the box bila perlu no box . Kami menganut paham, aturan itu penting, tapi kalau ada peluang, cari peluang,” ujarnya.

Masih kata dia, komunikasi yang diarahkan upaya pemerintah melindungi bangsa, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, menciptakan perdamaian dunia. Karenanya,  dibutuhkan adaptasi dari manusia, pemahaman risiko dan dampak Covid-19 di masyarakat. “Kebutuhan hidup manusia adalah komunikasi. Usaha atau bisnis yang berbasis teknologi dapat bertahan. Dunia perguruan tinggi masih dunia empiris, nyata. Saat ini melakukan sistem pembelajaran dengan dunia imajiner yang tidak bisa dipegang,” terangnya.

Menurut Widodo, dunia memasuki empat megashif. Pertama, lifestyle, gaya hidup tinggal di rumah. Bottom of the pyramid, kebutuhan bergeser pada aktualisasi diri seperti makan, kesehatan, dan keamanan.  Go Virtual, konsumen menghindari kontak fisik dan beralih menggunakan media digital. Emphatic Society, banyaknya korban jiwa sehingga memunculkan empati dan soladiritas di masyarakat.

Dijelaskannya, karakter era disrupsi meliputi VUCA, yakni volatility (situasi berubah setiap saat), uncertainty (situasi tidak pasti dan tidak bisa diprediksi), complexity (situasi sangat kompleks), ambiguity (situasi sangat ambigu yang menyebabkan misinterpretasi). Sementara,

Ada sepuluh 10 softskill yang harus diterapkan. Jika tidak dapat menerapkan, maka institusi akan parah. Di antaranya berpikir kritis, komunikasi yang baik, rasa ingin tahu, kepemimpinan, kemampuan berdaptasi, kerja sama dan kolaborasi, public speaking, manajemen waktu dan  networking. “Pandemi ini meng-nol-kan kita. Bagaimana kita melakukan lompatan dan menghasilkan yang terbaik,” jelasnya seraya menambahkan, proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi akan masuk lima besar pada 2030 dan 2050.

Diungkapnya, strategi komunikasi Covid-19 melibatkan pentahelix yakni pemerintah, komunitas, akademisi, organissi, dan media. “Komponen paling penting adalah akademisi,” ujarnya seraya menambahkan peran humas di perguruan tinggi menjadi sangat penting pada adaptasi kebiasaan baru.

Di tempat yang sama, Ketua Umum Perhimpunan Hubungan Masyarakat (Perhumas), Agung Laksamana mengemukakan beberapa langkah agar perguruan tinggi dapat meyakinkan masyarakat serta menghindari kemunculan klaster baru Covid-19 di lingkungan kampus. “Ada beberapa fungsi dalam sosialisasi, promotif dan preventif yang memiliki peran penting. Kampus telah menjadi langkah promotif dan poreventif untuk menghindari klaster baru,” jelasnya.

Sementara itu, Dr Suko Widodo, Ketua BPC Perhumas Surabaya menyampaikan humas menjadi bagian penting pada perguruan tinggi. “Kecepatan menjadi kunci penting. Namanya juga humas, biasa berhubungan dengan masalah. Keberanian menjadi kunci terbaik. Kalau perguruan tinggi mau maju, tempatkan humas sebagai bagian garda terdepan,” imbaunya.

Senada, Dr Desi Misnawati menambahkan, humas memang bagian penting pada perguruan tinggi. Tapi masyarakat masih banyak menilai akreditasi. “Meski demikian, protokol kesehatan terus diterapkan dan harus mampu beradaptasi dengan lingkungan kesehatan,” ungkapnya.

Webinar Nasional dan Call Paper for Article  tersebut merupakan
kolaborasi yang digelar Badan Pengurus Cabang (BPC) Perhumas Palembang dan Surabaya. Kali ini mengusung tema “Humas Perguruan Tinggi Menyikapi Era New Normal”. Selain Universitas Bina Darma Palembang, webinar tersebut didukung pula praktisi dan akademisi humas Universitas Airlangga dan Universitas 17 Agustus Surabaya.

Diketahui, Perhumas merupakan organisasi profesi para praktisi humas dan komunikasi Indonesia yang didirikan pada 15 Desember 1972. Perhumas secara resmi telah tercatat di Depdagri sebagai organisasi nasional kehumasan di Indonesia dan pada International Public Relation Association IPRA yang berkedudukan di London, Inggris.(swa)

………………..

Link Source:
Humas Perguruan Tinggi Menyikapi Era New Normal

LEAVE A REPLY