Bisnis Rumah Seken Cerah

0
601

 RADAR PALEMBANG – Direktur Pemasaran Century 21 Graha Palembang, Suwandi Hermawan mengatakan, rata –rata penjualan properti pada 2015 ini tercatat mengalami penurunan akibat kondisi ekonomi yang lesu.

“Khusus untuk rumah seken memang di awal-awal tahun turut merasakan dampak serupa. Hanya saja, ketika memasuki pertengahan tahun kondisinya sudah kembali membaik,” kata dia kepada Radar Palembang, Selasa (29/12).

Dikatakan Suwandi, lebih tahannya pasar rumah bekas ketimbang rumah baru terhadap pelemahan ekonomi, karena saat ini permintaan rumah seken relatif masih tinggi. Supply (ketersediaan) dan demand (permintaan) rumah seken cenderung seimbang. “Banyak yang jual banyak juga yang beli. Kalau rumah baru cenderung banyak orang terutama investor masih wait and see,” terangnya.

Khusus pasar rumah seken di Palembang jika dibandingkan periode serupa tahun 2014 lalu (yoy), terjadi pertumbuhan hingga 100 persen. “Hingga saat ini realisasi rumah seken kami berada dikisaran 200 unit,” ucapnya.

Suwandi menjelaskan, faktor lain yang membuat rumah seken lebih diminati adalah karakternya yang luas. Tidak seperti perumahan baru yang dalam satu komplek misalnya terdiri dari 60 unit rumah dengan tipe dan model yang keseluruhannya serupa. “Ini juga menjadi penyebab masyarakat lebih tertarik rumah seken,” tegasnya.

Kemudian, kompetitor rumah primary juga sudah terlalu banyak. Bahkan bisa dibilang sudah tidak seimbang dengan permintaan yang ada. Memang, lanjut Suwandi, pemerintah sebenarnya sudah mengeluarkan sejumlah kebijakan untuk bisnis properti, seperti memberikan kelonggaran loan-to-value (LTV). Hanya saja, dampak dari sejumlah kebijakan tersebut tidak serta merta dapat langsung dirasakan.

Dia mengumpamakan, ibarat kendaraan bisnis properti ini layaknya sebuah kapal. Yang jika dinjak remnya maka kapal tersebut tidak akan langsung berhenti, masih membutuhkan waktu yang cukup lama sehingga dapat berhenti secara keseluruhan. “Nah, berbeda dengan mobil yang jika diinjak pedal remnya, akan langsung dapat berhenti. Kira-kira seperti itulah gambaran dalam bisnis properti saat ini,” paparnya.

Disinggung mengenai peluang di tahun 2016, Suwandi mengaku, pihaknya lebih optimis dapat kembali mengukir capaian gemilang di tahun depan. Terlebih, sejumlah kebijakan yang telah dikeluarkan pemerintah tentunya akan dapat berjalan maksimum di tahun depan. “Prediksi saya untuk permintaan rumah seken di tahun depan akan mampu naik hingga 100 persen,” sebutnya.

Sementara, Asosiasi Real Estat Indonesia (REI) Sumsel yang merupakan salah satu pemain rumah primary terbesar mengaku, jika tahun 2015 ini merupakan tahun yang berat bagi dunia properti.

Ketua REI Sumsel, Hariadi Benggawan mengatakan, meski menjelang akhir tahun daya beli masyarakat mulai menunjukan perbaikan kea rah positif. Namun, tentu saja hal tersebut tidak dapat mendongkrak banyak terhadap realisasi pasar rumah primary. “Untuk rumah murah finish di kisaran 5 ribu unit. Sementara rumah menengah keatas hanya sekitar 1.000 unit, jauh dari target yang telah ditentukan,” kata dia.

Meski demikian, pihaknya optimis jika tahun 2016 dunia properti akan kembali membaik seiring dengan program penyediaan tempat tinggal dari pemerintah pusat. “ Paling tidak perbaikan akan terlihat sejak pertengahan tahun depan. Namun, akan lebih baik jika pemerintah lebih mendorong perbaikan sector ini sejak awal tahun,” pungkasnya. (tma)

 

 

 

 

LEAVE A REPLY