Bisnis Ruko Tak Lagi Cerah

0
784

 

RADAR PALEMBANG – Saat ini, membangun dan berinvestasi Rumah Toko (ruko) bukan keputusan bijak. Terlebih di lokasi-lokasi yang sudah mapan dengan harga jual tinggi. Potensi pertumbuhan harga sudah kian menipis, demikian pula dengan aktivitas transaksi di pasar sekunder.

Ketua DPD Asosiasi Kontraktor Gedung dan Perumahan Indonesia (AKGPI) Sumsel, Ir Kesyar Saropi SE mengatakan, Iklim perekonomian yang belum membaik sejak awal tahun lalu membuat daya beli terus menurun. Terutama untuk bisnis properti seperti ruko yang letaknya persis di jalan utama.

“Bisnis ruko di kawasan-kawasan favorit seperti Kecamatan Kemuning, Sukarame, dan Alang-Alang Lebar, dan Ilir Timur II bakal mengalami stagnasi. Harganya sudah terlalu tinggi, rerata mencapai di atas Rp 2 miliar,” kata dia, kemarin.

Kalau sudah terlalu tinggi, potensi pertumbuhan harganya jadi menipis. Sedikit peluang untuk menaikkan harga jual di atas sepuluh persen. Karena calon pembeli baik di pasar primer maupun sekunder akan berpikir ulang dan menyesuaikan kembali dengan bisnisnya. “Apakah feasible membeli ruko seharga Rp 2 miliar, bahkan Rp 30 miliar kalau bisnisnya hanya salon kecantikan atau makanan. Kalau bisnisnya dealer mobil mewah masih masuk akal,” ucapnya.

Dia melanjutkan, kalau harga ruko sudah menembus angka Rp 2 miliar ke atas, itu sudah tidak feasible. Dimana pengembang akan mengalami kesulitan untuk menjualnya dengan kondisi seperti ini.  “Dengan kondisi ekonomi sulit seperti ini pasar tidak sanggup menyerapnya, jadi ruko tersebut akan sulit untuk terjual,” sambungnya.

Sebaliknya, ruko yang dibangun di kawasan perumahan baru berkembang punya prospek lebih cerah. Menurut Panangian, pada dasarnya ruko akan mengikuti arah pengembangan perumahan. “Perumahan dibangun di situ pasti ada ruko. Nah, ruko-ruko yang menempel dengan perumahan barulah yang punya prospek cerah tahun ini,” ujar Pria yang juga menjabat sebagai Dewan Pengurus Lembaga Pengembang Jasa Konstruksi Nasional (LPJKN) ini.

Tidak hanya ruko, kata Kesyar, kondisi serupa akan turut dirasakan bagi pengembang  townhouse akan mengalami nasib serupa yakni mandek dalam penjualan. Townhouse memiliki pesaing apartemen kelas atas baik strata maupun servis.” Meskipun pengembangan  townhouse baru disarasakan disejumlah tempat di kota Palembang, namun pertumbuhanya juga seiring dengan competitor serupa seperti apartemen, hal ini tentu akan bedampak terhadap minat beli konsumen,” pungkasnya.(tma)

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY