Berikut 3 Sektor Tak Terlalu Terdampak Covid 19

0
222
Pegawai BRI Palembang Sriwijaya sedang melayani nasabah yang sedang menambung

RADAR PALEMBANG – Setidaknya ada beberapa sektor ekonomi yang tak terlalu signifikan dampaknya atas pandemi Corona Virus Disease (Covid) 19 yang terjadi.  Hal ini diungkapkan Kepala Cabang BRI Palembang Sriwijaya, M Syarif Budiman, Rabu (1/7). “Hampir semua sektor (terimbas Covid 19,read), tapi ada juga yang masih kuat,”jelas dia kepada Radar Palembang.

Seperti, lanjut Syarif, sektor pertanian, petani panen padi, dapat beras, kalau tidak dijual, itu (beras,read) bisa dimasak untuk kebutuhan pangan, jadi pertanian salah satu sektor tak terlalu terdampak Covid. Lalu, sambung dia, yang kedua tak terlalu terdampak adanya pandemi Covid 19 ini, yakni sembako (perdagangan,read). “Bukan tak terdampak, tapi tak terlalu signifkan dampaknya.”

Ukurannya sederhana, menurut Syarif, orang untuk (kebutuhan,read) sembako, orang pasti akan selalu beli, beda dengan untuk baju atau jalan-jalan (liburan,read), maka itu bisa ditunda dulu.

Tak ketinggalan, pandemi Covid 19 ini juga berdampak dari sisi penjualan alat kesehatan, seperti masker, hand sanitizier dan alat pelindung diri lainnya. “Sektor lainnya, untuk alat-alat kesehatan, malahan untung,”kata dia.

Itu, sambung dia, sebagian sektor ekonomi yang tetap bertumbuh ditengah banyak sektor lainnya mengalami pelemahan bisnisnya. “Untuk pertanian, termasuk perkebunan tak signifikan dampaknya,”ulas dia.

Untuk sektor sangat terdampak pandemi ini, menurut Syarif, hotel, restoran, angkutan, itu sangat terdampak, apalagi EO (even organizier,read) sangat kena efeknya, karena mana ada orang pakai jasa EO untuk nikah saat ini.

Tapi, dirinya berharap, semakin cepat perekonomian itu pulih, apalagi aktivitas masyarakat sudah mulai banyak diluar, PSBB tidak diperpanjang, mudah-mudahan cepat ada perbaikan.

Dari sisi perbankan, khususnya pembiayaan, sektor mikrolah yang paling banyak jumlah debitur dan plafon yang mendapatkan restrukturisasi kreditnya. “Kita mengenal KUR ritel dan KUR mikro, nah mikro (kredit,read) inilah terbanyak direstrukturisasi,”jelas dia. “Pembiayaan mikro ini sampai dengan Rp250 juta, paling banyak jumlah debitur dan plafon pembiayaannya terdampak (restrukturisasi,read),”ungkap Syarif.

Terkait layanan perbankan sebelum, saat dan usai PSBB, menurutnya, aktivitas perbankan sebelum Covid dan setelah selesai PSBB, layanan ke masyarakat tetap berjalan seperti biasa.

Ia menambahkan disertai protokol kesehatan, baik kegiatan menabung, pembiayaan dan transaksi lainnya berjalan seperti biasanya. “Protokol kesehatan di bank, awalnya dilaksanakan WFH (work from home,read), pembagian tugas (karyawan,read) ada yang WFH ada yang WFO atau work from office,”jelasnya.

Kemudian, akui dia, ada penyesuaian jam layanan, regulator atur jam operasional, biasanya buka 8 pagi, kini jam 9 pagi dimulai sampai dengan jam 2 siang.

“Kantor (layanan bank,read) juga menerapkan protokol kesehatan, para pekerja menggunakan masker, gunakan sarung tangan, menggunakan hand sanitizier, termasuk sempat di pasang akrilik di bagian layanan,”ujar dia. (dav)

 

LEAVE A REPLY