Asuransi Bumi Asih Di Tutup Ratusan Nasabah Gigit Jari

0
3339

 

RADAR PALEMBANG – 18 Oktober 2013  Otoritas Jasa Keuangan (OJK) secara resmi menutup asuransi Jiwa Bumi Asih Jaya. Namun penutupan tersebut tidak serta merta menyelesaikan masalah. Ratusan nasabah kakap di Palembang yang memiliki dana diatas Rp1 miliar masih banyak yang belum dibayarkan klaim asuransinya.

Salah satu nasabah yangberasal dari Bankir bank swasta mengaku hingga kini dana yang sudah diinvestasikannya sejak tahun 1990 tidak bisa dicairkan, lantaran OJK menutup operasional  Asuransi Bumi Asih. Ia mengaku total dana yang tidak bisa ia cairkan nilainnya diatas Rp1 miliar. Nasabah kakap yang mengalami kerugian akibat ditutupnya Bumi Asih bukan hanya dirinya semata, namun ada ratusan nasabah lain yang bernasib sama dengan dirinya.

‘’Saya menjadi nasabah Asuransi Bumi Asih sejak tahun 1990, saya mengambil asuransi yang sifaktnya infestasi dengan jangka waktu hingga 30 tahun, namun baru berjalan 23 tahun asuransi bangkrut dan OJK menutupnya, saya sudah berulangkali menanyakan dan meminta pencairan asuransi namun sejak ditutup 2013 lalu sampai sekarang tidak ada kejelasan,” kata ibu paruh baya saat mengadu kepada ketua Komisional OJK Muliaman D Hadat.

Dia menceritakan, ketika terus dimintai pertanggung jawaban, pihak asuransi sendiri pernah mengatakan akan mengganti uang nasabah termasuk. Namun masih menunggu penjualan aset dari Bumi Asih sendiri, namun hingga saat ini kerugian yang didapatnya tidak ada kejelasan. Untuk pengaduan konsumen sendiri, sudah beberapa kali dilakukan ke OJK baik pusat maupun di daerah belum bisa berbuat apa-apa malah pihak OJK menlai kalau hal itu merupakan resiko dari investasi.

“Setiap kali orang Bumi Asih ditanya masalah penyelesaian dengan nasabah selalu diberikan janji manis, sebab akan dibayar 50 persen, namun masih proses pencairan, sementara sisanya akan dibayar ketika aset sudah terjual, namun janji demi janji diberikan tanpa sedikitpun ada realisasinya,” jelas dia.

Menurut ibu yang sehari-harinya bekerja di perbankan ini, nasabah besar yang saat ini belum diselesaikan oleh Bumi Asih kebanyakan nasabah yang berkerja di perusahaan perbankan. Lebih dari 100 orang yang tabungannya investasinya besar harus gigit jari tanpa ada kejelasan. Sementara jika ingin melaporan ke Polisi hampir semua asabah takut kalalu dilaporklan dananya tidak akan pernak kembali selamanya.

Resiko investasi di lembaga keuangan non bank memang saat ini belum ada lembaga resmi yang memberikan jaminan. Jika di perbankan memiliki lembaga penjamin simpanan namun lembaga non bank belum ada sama sekali maka hal ini bisa dikatakan sebagai resiko investasi.

Direktur Penyidik Jasa Keuangan OJK Lutfhy Zain Fuadi mengatakan, permasalah Asransi Bumi Asih kini memang masih menggantung, semenjak ditutup OJK secara resmi, banyak nasabah yang mengalmi kerugian karena tidak bisa mencairkan dananya.

“Namun nasabah tersebut enggan untuk melaporkan kasus itu ke OJK, makanya kita tidak bisa berbuat banyak kalau tidak ada laporan yang mendetil dari nasabah yang merasa di rugikan. Jika ada nasabah yang melapor kebanyakan buka ke OJK namun ke Polri, hal ini tentu sangat salah, sebab masalah perusahaan bangkrut bukan ranah krimina namun ranah perdata. Jika nasabah ingin uangnnya kebamli tentu harus dilakukan mediasi, itu tentu bisa dilakukan oleh OJK selaku otoritas pengawasnya,” jelas dia.

Permasalah perusahaan asuransi yang bangkrut memang banyak terjadi, kewajiban untuk menganti memang harus dilakukan oleh pemilik. Jika pemilik tidak memiliki uang lagi untuk pengembaliah maka diwaharuskan menjual aset perusahaan yang tersisa setelah itu mengembalikan secara utuh uangnya kepada nasabah. (iam)

LEAVE A REPLY