Aspal Karet Sepi Peminat

0
209

 

RADAR PALEMBANG – Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional (BBPJN) Wilayah V Sumsel bakal melakukan pelelangan kembali terhadap penyediaan bahan baku penerapan aspal karet tahun ini. Hal tersebut menyusul lelang penyediaan bahan baku brown crepe aspal karet di akhir tahun lalu sepi peminat.

Hingga berakhirnya masa waktu pengajuan penawaran, belum ada satu pun perusahaan yang memasukkan berkas penawaran ke Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Kepala BBPJN Wilayah V, Kiagus Syaiful Anwar mengatakan lelang sudah dilaksanakan sejak Desember lalu. Rencananya jumlah bahan aspal karet yang bakal diserap sebanyak 1.248 ton. Hanya saja, setelah dilelang tidak ada satupun perusahaan penyedia yang memasukkan penawaran.  “Belum (pemenang tender,red). Rencananya nanti akan dilelang ulang,” kata Syaiful, Senin (7/1).

Dia kurang mengetahui alasan minimnya kepesertaan perusahaan penyedia. Namun, dirinya memastikan penggunaan aspal karet di sejumlah jalan tidak akan terkendala. “Penggunaan di jalan Sumsel tetap dilaksanakan. Mudah-mudahan di lelang berikutnya sudah ada pemenangnya,” katanya.

Dijelaskan, aspal karet tahun lalu sudah digunakan di jalan nasional yang berada di kawasan Muara Beliti-Tebing Tinggi-Batas Kota Lahat sepanjang 5,431 km.

Sementara di tahun ini, rencananya pihak Kementerian bakal menggunakannya di dua lokasi. Yakni di ruas jalan Muara Beliti-Tebing Tinggi-Batas Kota Lahat sepanjang 2,8 km dan di ruas jalan Prabumulih-Beringin-Baturaja sepanjang 17,25 km. “Rencananya digunakan di dua ruas itu dulu,” katanya.

Bahan karet brown crepe digunakan sekitar 7 persen dari aspal karet atau sebanyak 81 ton karet alam per kilometernya. Penggunaan aspal karet dipilih lantaran kualitasnya lebih baik ketimbang aspal minyak PEN 60 yang biasa dipakai. Dijelaskannya, aspal minyak memiliki tingkat deformasi atau stabilitas dinamis sebesar 492 pass/mm. Sedangkan untuk aspal karet, tingkat deformasinya sebesar 1909 pass/mm.

Selanjutnya untuk tingkat FATIG atau retak lelahnya, aspal minyak memiliki kadar 750 ribu. Sementara aspal karet sebesar 1,650 juta. “Dari ketahanan suhu juga lebih besar aspal karet yakni sebesar 2.645 Mpa. Lebih tinggi ketimbang aspal minyak yang mencapai 2.454 Mpa,” katanya.

Syaiful menegaskan nantinya harga karet yang dibeli dari petani mencapai Rp 8 ribu per kilogram. Karet dari petani tersebut memiliki kadar karet kering (K3) sebesar 55-60 persen. Pembelian karet dari petani dilakukan oleh pabrik yang memproduksi brown crepe. Kementerian nantinya akan menunjuk pabrik yang menyuplai bahan brown crepe kepada Kementerian PU. Syaratnya, pabrik wajib mencantumkan Surat Keterangan Asal Brokat (SKAB) dan kuitansi pembelian dari petani atau KUD.  “Jika tidak ada kedua syarat itu, kami tidak mau membelinya,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perkebunan Sumsel, Fachrurrozi melalui Kabid Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan (P2HP), Rudi Arpian mengatakan kualifikasi dan kuantitas yang ditawarkan Kementerian PUPR cukup tinggi. Bahan brown crepe hanya diproduksi 3 pabrik yang ada di Sumsel. Sementara, produksinya tidak sebanyak yang diperlukan Kementerian PUPR.

“Disamping itu, banyak pengusaha yang kurang berminat mengikuti lelang yang dilakukan pemerintah dan lebih memilih untuk bertransaksi bisnis secara langsung,” katanya.

Saat ini pihaknya tengah mengusulkan ke Kementerian PUPR untuk mengubah kebutuhan bahan campur aspal karet dari browncrepe ke blanket. Kedua bahan campur tersebut merupakan jenis yang sama. Hanya saja, untuk browncrepe lembaran karetnya hanya setebal 3 milimeter sehingga kadar karetnya lebih bersih. Sedangkan blanket memiliki ketebalan diatas tiga milimeter sehingga kandungan karetnya masih kotor.

Namun, blanket bisa diproduksi oleh 29 pabrik karet yang ada di Sumsel. Dari sisi harga, blanket lebih murah ketimbang browncrepe. “Kami sudah berkonsultasi dengan Pusat Penelitian (Puslit) Karet Sumbawa. Blanket bisa menjadi bahan campur aspal karet. Artinya jika Kementerian PUPR menggunakan bahan campur blanket, tentunya peserta lelang akan lebih banyak,” katanya.

Untuk mengatasi sepinya minat pengusaha, Rudi juga bakal mengusulkan kepada Kementerian untuk mengubah sistem lelang. Nantinya, peserta lelang diusulkan dari Koperasi Unit Desa (KUD) yang melaksanakan lelang karet. Lelang pengadaan pun diusulkan untuk dipecah menjadi Rp 2,5 miliar per paket agar KUD bisa ikut serta. KUD nantinya akan menjalin kerjasama dengan pabrik karet yang memproduksi browncrepe.

“KUD bisa ikut lelang untuk pengadaan browncrepe. Syaratnya sudah menjalin kerjasama dengan pabrik bagi KUD yang tidak bisa memproduksi browncrepe. Nantinya, KUD akan dibayar setelah browncrepe diterima. Dengan begitu, peserta lelang akan semakin banyak,. Selain itu, skema kepesertaan KUD juga untuk memastikan asal karet dari petani di Sumsel,” katanya (tma)

LEAVE A REPLY