Anjal Jadi Ajang Bisnis

0
727

 

RADAR PALEMBANG – Ditengah geliat pembangunan kota Palembang, problematika klasik mengenai anak jalanan (Anjal) yang kerap kali terlihat disejumlah persimpangan jalan seakan tak pernah ada habisnya. Mirisnya, sebagian besar dari anak – anak tersebut itu justru anak usia sekolah. Dinas Sosial (Dinsos) Palembang pun merasa prihatin dan harus menangani permasalah tersebut.

Beberapa anjal masih menggunakan modus lama. Seperti menggendong bayi dan tak jarang pula yang berpura-pura menjadi loper koran untuk meminta belas kasihan dari penguna jalan. Pantauan Radar Palembang, keberadaan anjal kembali marak di persimpangan RSK Charitas pada sore hari. Usia anjal relatif anak-anak sekitar 7-9 tahun. Setidaknya ada sekitar 3-5 anjal yang selolah tak penah lelah mendekati kendaraan ketika traffic light menunjukan tanda berhenti.

M Alironi, Kepala Bidang Pembinaan dan Rehabilitasi Sosial, Dinsos Palembang, mengatakan, pada dasarnya ajal kini banyak djadikan ajang bisnis yang dianggap cukup menggiurkan, kuat dugaan anjal tersebut dimanfaatkan oknum tertentu untuk meraup keuntungan. “Kelihatannya mereka (anjal) banyak ditunggangi dan dipelihara oknum tertentu. Ada orang yang memanfaatkan mereka. Kami juga meminta kepada LSM (lembaga swadaya masyarakat) untuk dapat bersama membantu Pemkot menekan eksploitasi anjal ini,” kata dia, disela-sela Sosialisasi Peraturan Perundang-undangan penyuluhan bidang kesejahteraan sosial Kota Palembang tahun 2014 di Hotel Bumi Asih. Selasa (13/5)

Bagaimana tidak, jelasnya, berdasarkan pengakuan salah satu kordinator anjal yang sempat tertangkap oleh Dinsos, dalam satu hari saru orang anjal yang mengemis sedikitnya mampu mengumpulkan Rp 300 ribu. “Jadi ini bukan lagi persolan sosial saja, sebab peluang bisnis yang terselubung di dalamnya perlu dihentikan agar persoalan ini dapat terselesaikan,” tegasnya.

Untuk itu, pihaknya pun sudah mengerahkan personel untuk melakukan patroli setiap harinya. Belum lagi, batuan tambahan personil patroli dari Satpol PP, Polresta dan Kodim 0418. “Sengaja kami jalin kerjasama dengan kodim khusus untuk menertibkan anak punk karena sudah meresahkan masyarakat,” terangnya.

Lebih jauh dia menjelaskan, sepanjang 2012-2013, tak kurang pihaknya sudah menertibkan sekitar 500 anjal termasuk gelandangan dan pengemis (gepeng). Dari jumlah ini, 70 persen anjal termasuk orang baru selebihnya orang sama yang sudah pernah terjaring razia. “Sebenarnya lebih mudah kalau menertibkan orang baru, karena mereka takut saat petugas datang,” akunya.

Sementara itu, Kepala Dinsos Palembang, Faizal AR menegasakan, kini pihaknya mulai akan menerapkan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 12 Tahun 2013 tentang Anjal, gelandang dan pengemis melarang setiap lembaga atau perorangan yang membiarkan anak-anak untuk meminta-minta di pinggir jalan atau fasilitas umum.

Bila hal ini dilarang, lanjutnya, baik pemberi ataupun menerima dapat diancam dengan tindak pidana ringan (tipiring) serta hukum pidana kurungan paling lama tiga bulan atau denda paling banyak Rp50 juta. Selain pidana, para pelanggar juga dapat dikenai sanksi administrative dan denda sesuai dengan tingkat pelanggarannya. “Perda ini sudah di Undang-undangkan dan diperkuat dengan Peraturan Wali Kota Palembang (Perwali). Di tergetkan setelah melakukan sosialisasi perda ini segera dapat diterapkan,” terang Faizal.

Selain itu, kata dia, pihaknya juga menghimbau kepada pedagang asongan dan penjual koran untuk tidak berjualan di sepanjang jalan protokol. Sebab, selain menggangu arus lalu lintas, hal tersebut juga dapat diri sendiri serta pengguna jalan yang lain. Begitupula bagi orang tua yang memiliki anak jalanan, diminta untuk dapat menitipkan mereka di panti social milik Pemkot Palembang.

Sebab, disana anak-anak akan mendapatkan kehidupan yang lebih layak, serta di sekolahkan secar gratis. “Kalau memang orang tuanya tidak mampu, maka lebih baik titipkan saja di panti. Hal ini jauh lebih baik dibandingkan mereka harus menjadi gelandangan. Sementara itu, orang tuanya dapat bekerja untuk mencukupi kebutuhan,” imbuh dia.

Diakuinya, saat ini keberadaan Anjal, pengemis ataupun gelandang di sejumlah titik seperti jembatan penyeberangan dan jalan-jalan protokol sudah cukup berkurang. Namun, bukan berarti secara kuantitas jumlah mereka telah benar-benar berkurang. Sebaliknya, mereka masih ada namun berada pada titik-titik yang baru. Seperti kawasan wisata Benteng Kuto Besak, pasar, di pinggiran toko dan lain-lain. Untuk itu, pihaknya terus melakukan penjangkauan terhadap para gepeng ini. “Kami juga telah menambah fasilitas 7 motor rescue untuk membantu petugas dalam melakukan patroli keberadaan anjal tersebut,”pungkas dia.(tma)

LEAVE A REPLY