Akibatnya Tak Kena Langsung

0
150

 

+ Kim Jong Un Bertemu Trump

 

 

Singapura bakal jadi saksi bersejarah pertemuan Presiden Amerika Serikat (AS) dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un. Pertemuan tersebut diprediksi akan berdampak pada sektor ekonomi.

RADAR PALEMBANG– Pertemuan perdana Kim Jong Un dengan Donald Trump dijadwalkan pada Selasa (12/6). Pertemuan tersebut berlangsung secara tertutup di Hotel Capella, Pulau Sentosa, Singapura.

Pertemuan itu bertujuan untuk menjadi salah satu upaya di antara Amerika Serikat dan Korea Utara untuk mencairkan ketegangan kedua negara. Dilansir dari Reuters, Senin (11/6) pertemuan tersebut sudah pasti bernilai politik. Lalu bagaimana dampak pertemuan tersebut terhadap sektor ekonomi.

Beberapa kalangan menilai pertemuan tersebut akan memberikan dampak positif bagi perekonomian dunia. Lantas, apa dampaknya ke ekonomi Indonesia? Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution di Kawasan Senayan mengatakan, yang paling penting dari pertemuan ini justru bukan ke sektor ekonomi, melainkan dampaknya ke hubungan politik dua negara. “Bukan ekonominya, soal politiknya. Antara Trump dengan Kim Jong Un itu politiknya yang penting,” ujar dia.

Kembali disinggung dampaknya ke ekonomi Indonesia, Darmin tak menerangkan secara rinci. Darmin hanya mengatakan,secara tidak langsung memang pertemuan itu juga berdampak ke sektor ekonomi. “Ya sentimen ke ekonomi (Indonesia) itu akibat tidak langsungnya. Bukan akibat langsung,” kata dia.

Pasar saham regional bergerak positif menyambut pertemuan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Singapura.

Pertemuan Pimpinan Korea Utara Kim Jong Un dengan Presiden Amerika Serikat (AS) bakal menjadi sentimen positif bagi perekonomian dunia. Pertemuan yang berlangsung di Singapura itu dinilai dapat meredam ketegangan kedua negara tersebut soal nuklir.

“Saya pikir dampaknya positif. Minimal bisa mengurangi tensi konflik global yg ditimbulkan oleh Korut,” kata Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada (UGM) Tony Prasetiantono.

Dalam peta ekonomi global, Tony menceritakan ada yang namanya terminologi VUCA alias volatilty, uncertainty, complexity, ambiguity. Menurut Tony, kebijakan Kim Jong Un yang kontroversial, menjadi salah satu faktor VUCA, terutama dalam hal uncertainty dan complexity.

“Redanya tensi akan menyebabkan perekonomian global menjadi lebih ‘anteng’, stabil. Dampaknya bisa kepada gairah investasi, stabilitas harga minyak, dan seterusnya. Ini sangat positif,” tambah dia.

Sementara itu, Peneliti dari INDEF Bhima Yudhistira mengungkapkan, pertemuan Kim Jong Un dengan Donald Trump bisa mendorong penguatan nilai tukar dan bursa saham kawasan Asia.

Selain itu, kata Bhima, pertemuan itu juga memberikan efeknya positif untuk netralisir ketegangan di Semenanjung Korea. “Kalau pertemuannya berhasil dan menghasilkan suatu kesepakatan bersama yang clear dan positif antara Trump dan Kim, bisa dorong penguatan kurs dan bursa saham di kawasan Asia,” kata Bhima. (ang)

LEAVE A REPLY