Agama dan Elite Islam

0
1333
foto : Abdullah Idi

oleh Abdullah Idi
Guru Besar Sosiologi/Direktur Pascasarjana IAIN Raden Fatah Palembang

DALAM suatu masyarakat, selalu ada pemisahan antara kalangan yang berlatar belakang status sosial yang tinggi dengan status sosial rendah/bawah. Demikian halnya dengan pengelompokan antara rakyat (massa, umat) dengan elite (pemimpin). Dalam masyarakat primitif, mereka yang disebut pemimpin sering kali beranalogi dengan sejumlah kelebihan lainnya.
Kelebihan itu dapat saja terletak pada kemampuan pribadinya dalam mengorganisir umat atau keberanian dalam berhadapan dengan ‘musuh-musuh’ dari luar komunitasnya. Jadi, setiap masyarakat, ukuran atau parameter yang digunakan dapat beragam. Untuk suatu masyarakat perkotaan umpamanya, pemimpin lebih dinilai dalam parameter-parameter rasional, seperti kemampuan mengorganisir umat, mengarahkan, dan membimbing umatnya.
Tetapi, jika ditelusuri lebih jauh, dalam fenomena sosial yang terjadi dalam kehidupan berbangsa saat ini, peranan elite-pemimpin sangat strategis dalam proses pembangunan. Maju dan mundurnya suatu komunitas, masyarakat, dan bangsa ini ke depan sangat ditentukan sejauhmana peranan elite/kepemimpinan seorang yang ditunjuk sebagai pemimpin.
Dari perspektif sosiologis, seorang menduduki posisi jabatan tertentu dalam beragam struktur birokrasi sering kali disebut pemimpin. Agaknya hal itu, terlalu menyederhanakan. Secara formal, bisa saja seorang diangkat menjadi pemimpin, pejabat birokrasi, pejabat politis, tetapi secara substantif, belum tentu sesungguhnya merupakan pemimpin. Karenanya, dalam tulisan ini, akan diungkapkan tentang perspektif sosiologi agama tentang elite/pemimpin dalam Islam?
Makna Elite-Pemimpin
Dalam sosiologi, istilah elite lazim didefinisikan sebagai anggota suatu kelompok kecil dalam masyarakat yang tergolong disegani, dihormati, kaya (materi-ekonomi) serta berkuasa. Kelompok elite adalah kelompok minoritas superior yang posisinya berada puncak strata, memiliki kemampuan mengendalikan kegiatan ekonomi dan politik, serta sangat dominan mempengaruhi proses pengambilan keputusan-keputusan strategis dan penting.
Itulah sebabnya dalam banyak hal kelompok elite tidak hanya diposisikan sebagai pemberi legitimasi, akan tetapi lebih dari itu, mereka merupakan panutan sikap dan acuan pelbagai tindakan, dan oleh masyarakat diharapkan dapat berbuat nyata untuk kepentingan bersama. Sementara itu, kelompok lain yang dikuasai dan didominasi oleh kelompok elite dinamakan massa. Mereka adalah mayoritas inferior, yang posisinya dalam stratifikasi masyarakat berada dibawah, tidak memiliki kemampuan kuat untuk mengendalikan kegiatan ekonomi dan politik serta dalam proses pengambilan keputusan penting.
Dari perspektif sosiologi, agama diartikan sebagai suatu ciri kehidupan sosial manusia yang universal. Dalam arti, bahwa semua masyarakat memiliki cara-cara berfikir dan pola-pola prilaku yang memenuhi syarat untuk disebut agama (religious). Sejumlah hal yang berhubungan dengan ‘judul’ agama, termasuk dalam superstruktur: agama terdiri atas tipe-tipe simbol, citra, kepercayaan, dan nilai-nilai spesifik dimana makhluk manusia menginterpretasikan eksistensi mereka. Akan tetapi, karena agama juga mengandung komponen ritual, maka sebagian agama tergolong juga dalam struktur sosial. Studi tentang kepemimpinan (elite), telah dilakukan dalam beragam perspektif disiplin ilmu.
Dari perspektif sosiologi, elite (pemimpin) pada dasarnya merupakan fenomena yang lahir dari konstruksi sosial-budaya yang dapat membedakan antarindividu dan antarkomunitas berbeda. Pembicaraan mengenai pemimpin, karenanya, bertalian dengan banyak kalangan, karena berhubungan persoalan kekuasaan dan jabatan, dimana pemimpin sering muncul dan berkembang dari masyarakat sendiri.
Mills, sosiolog, mengungkapkan bahwa elite merupakan mereka yang menduduki posisi atas dalam institusi ekonomi, militer dan politik yang membentuk elite kekuasaan yang terintegrasi dimana keputusan-keputusan pentingnya menentukan strukttur dasar dan arah masyarakat. Mills selanjutnya mengungkapkan bahwa elite kekuasaan bukanlah suatu klik yang tertutup dan statis dengan seperangkat kebijaksanaan yang terpadu.
Dalam setiap komunitas, kehadiran seorang elite merupakan sebuah kebutuhan, karena setiap warga masyarakat, massa, membutuhkan seorang elite. Kebutuhan seorang elite itu, sebagai panutan dan tauladan bagi mereka dalam proses penciptaan keteraturan dan pola interaksi dalam komunitasnya. Suzanne Killer mengatakan bahwa kepemimpinan sosial merupakan salah satu kekuatan yang menyangga masyarakat yang teratur.
Kehadiran seorang elite diharapkan dapat mempertahankan kehidupan sosial, politik, agama, ekonomi dan budaya. Kehadiran elite juga diharapkan dapat mencegah ekspansi pihak luar dalam komunitas itu, yang dapat mengancam keutuhan kelompok.
Studi korelasi yang dilakukan para ahli sosiologi terhadap makna kepemimpinan telah melahirkan berbagai tesis.
Max Weber misalnya, memandang adanya hubungan antara tingkat ketaatan dengan penguasaan ekonomi. Pemikiran Weber tentang birokrasi sangat penting untuk menjelaskan makna kepemimpinan dalam struktur birokrasi.
Weber berpendapat bahwa pemimpin dalam dirinya melekat kuat komitmen moral dan intelektual, pemimpin tidak memperlihatkan sikap yang memihak terhadap salah satu kelompok—diskriminasi, yang satu dipentingkan dan lainnya diabaikan. Kata Weber, pemimpin yang baik adalah memberikan motivasi, semangat, optimisme, dan janji bagi perbaikan yang totalitas dan komprehensif.
Sementara itu, pada suatu komunitas sosial, terkadang mereka yang menduduki suatu jabatan politik, jabatan struktural, dan jabatan lainnya, sebagian kalangan memandangnya sebagai pemimpin. Padahal, terkadang kualitas kepemimpinan, pribadi, integritas, tipologi kepemimpinan dan seleksi sejarah atas label pemimpin terkadang belum teruji. Bahkan, suatu hal yang lazim, tindakan dan prilaku pemimpin justeru belum terlalu mendorong orang lain untuk maju dan berkembang, mendorong optimisme, dan kurang memberi ketauladanan. Pemimpin seperti ini, selanjutnya, terkadang pula bukannya ‘melayani’ tapi selalu minta ‘dilayani’. (*)

 

LEAVE A REPLY