80 Persen Beras Sumsel Eksodus

0
565

 

 

 

RADAR PALEMBANG, RP – Sumsel belum seksi bagi para pebisnis beras. Terbukti, hampir 80 persen dari total produksi beras Sumsel terjadi eksudus ke provinsi tetangga yakni ke Pekan Baru dan Jambi. Jumlah ini berpotensi bertambang mengingat adanya selisih HET (harga eceran tertinggi) beras yang berlaku saat ini.

Eksodusnya beras Sumsel terungkap ketika acara workshop tentang tatakelola perberasan nasional yang digelar Kemtrian Koordinator Bidang Perekonomian di Hotel Horizo Ultima, Kamis (28/9).

Dalam workshop tersebut, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Sumatera Selatan Ir Taufik Gunawan MSi mengatakan, eksodus beras Sumsel terjadi karena adanya kelebihan stok beras yang ada di Sumsel, makanya harus didistribusikan ke beberapa provinsi tetangga hingga Jakarta dan Jawa.

Permasalahan lain yang terjadi menurut dia, adanya selisih penetapan HET antara Sumsel dan Jambi yang selisihnya Rp 500 untuk beras medium dan premium. Kondisi ini tentu menjadi pemikat utama para pengusaha beras untuk menjual beras ke daerah yang HET-nya lebih mahal.

“Kami dari dinas terkait saat ini terus mensosialisasikan mengenai HET ini, jangan sampai ada pengusaha yang kena tangkap, mengenai harga dan penjualan yang dilakukan oleh pengusaha itu sudah menjadi hukum pasar,” jelas dia.

Eksodus beras Sumsel ke beberapa daerah juga dikuatkan oleh Kepala Perum Bulog Divre SumselBabel, Bakhtiar As. Menurutnya, adanya perbedaan HET antara daerah yang berdekatan menimbulkan potensi besar untuk terjadinya eksodus yang dilakukan oleh pengusaha.

“Kalau kita lihat dari penetapan HET ada disparitas harga yang cukup signifikan. Contoh HET Sumsel Lampung dengan daerah Jambi. Selisih harga mencapai Rp 500, inilah yang menimbulkan terjadinya eksodus besar beras asal sumsel banyak lari ke Jambi,” jelasnya.

Menurutnya, saat ini 50 persen beras asal Sumsel banyak dijual ke Riau dan 30 persen ke Jambi. Namun dengan sisa 20 persen masih cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi beras Sumsel.

Selisih HET ini berpotensi untuk mengajak pengusaha beras Sumsel semua lari menjual beras di daerah tersebut. Pemerintah provinsi tentu harus bersikap, jangan sampai produksi beras Sumsel yang berlimpah malah terjadi kekurangan karena semua anyak lari ke luar daerah.

Menyikapi itu, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura Erwin Nurwibowo untuk mencegah eksodus beras Sumsel ke luar daerah karena selisih HET tersebut, pemerintah sudah membuat program percepatan masa tanam dan panen padi. Ini bertujuan untuk menjaga stabilitas harga beras sumsel sedikit lebih mahal dari daerah lain. “Jika beras di tempat kita lebih mahal dari derah lain tentu tidak mungkin pengusaha lebih memilih menjual keluar karena faktor biaya angkut yang tidak sedikit,” jelas dia.

Eksodus yang terjadi saat ini tidak perlu dikhawatirkan, sebab yang dijual ke luar itu adalah beras suplus atau kelebihan konsumsi. “Konsumsi beras Sumsel per tahun antara 800-900 ribu ton sementara kita masih memiliki surplus hampir 2 juta ton, yang itulah yang dibagikan ke daerah lain untuk memenuhi kebutuhan pangannya,’’ tutup Erwin. (iam)

LEAVE A REPLY