60 Persen Guru di OI Gadaikan SK­­­

0
975

 

RADAR  PALEMBANG  – Dari 5000 guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) maupun Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) bertugas di wilayah Kabupaten Ogan Ilir, 60 Persen mengadaikan Surat Keputusan (SK) pengangkatannya ke bank untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Hal ini dibuktikan banyaknya CPNS dan PNS mengajukan surat ke Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Ogan Ilir untuk meminta persetujuan meminjam uang ke bank dengan cara ‘menitipkan’ SK asli ke bank.

Sekretaris Disdik Ogan Ilir, Hafizi Isro mengatakan, hal tersebut dilakukan lantaran tingginya tuntutan hidup yang tidak sebanding dengan gaji yang diterimanya.
Menurutnya, rata-rata CPNS dan PNS tenaga pendidik menggadaikan SK aslinya di Bank Sumsel dan BRI yang digunakan sebagai agunan untuk mendapatkan pinjaman kredit. “Mereka terdiri dari golongan IIa hingga IVa untuk mendapatkan dana sesuai dengan permintaan dan golongan,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (29/06).

Jumlah yang banyak dan lebih dari 50 persen lanjutnya, adalah golongan III,  tapi yang sedikit ialah golongan IIa dan IVa yang memiliki gaji pokok sebesar Rp1 juta hingga Rp2,7 juta. Permintaan pinjaman hanya boleh dilakukan dengan cara memotong gaji pegawai maksimal 60 persen dari gaji.

”Soalnya gaji tersebut harus disisihkan buat kehidupan sehari-hari, kalau habis dipotong bank, bagaimana lagi mau makan dan beraktivitas. Kalau sudah berlebih kita khawatir kinerja guru makin turun,” jelasnya.

Meski banyaknya guru yang menggadaikan SK aslinya sambungnya, ada juga sebagian guru PNS dan CNPS yang enggan mengambil kredit di bank dan menjalani hidupnya seadanya.

“Suatu kebanggan juga bagi PNS yang tidak berhubungan dengan bank, karena gaji yang diterima setiap bulan bisa dibawa penuh ke rumah yang dipersembahkan kepada istri dan anak-anaknya,” imbuhnya.

Tak lupa dirinya juga mengingatkan kepada PNS maupun CPNS yang menggadaikan SK aslinya ke Bank agar selalu meningkatkan kinerja mengajar kepada anak didiknya.

“Walaupun gajinya sudah banyak potongan, jangan jadi alat atau kendala untuk mengajar. Yang jelas, kita ingin kinerja tetap baik, sehingga hasil didikan akan berkualitas,” tukasnya saraya mengaku saat ini sudah banyak guru yang bersertifikasi. (ben)

LEAVE A REPLY