5 November Vihara Dhamma Vijja Rayakan Khatina

0
213

+ Dihadiri 9 Biksu Sangha Theravada Indonesia

RADAR PALEMBANG– Vihara Dhamma Vijja yang terletak di Jalan Sirna Raga Rt 22 No 1623 Kel 8 Ilir Palembang pada 5 November 2019 mendatang akan   menggelar perayaan Hari Suci Kathina.

Ketua Vihara Dhamma Vijja Palembang Jimmi mengatakan, perayaan Khatina dimulai dari pukul 18.30 wib hingga selesai diawali ritual Pindapatta pada pukul 18.30  Wib.
“Perayaan dihadiri 9 bhikku  dari Sangha Theravada Indonesia tepatnya berasal dari Surabaya,Jambi, Batam, Riau, Pekan Baru dan Medan, “katanya.

Menurut Jimmy, 9 biksu ini sebelum ke Palembang keliling untuk menghadiri perayaan Khatina termasuk di Vihara Dhamma Vijja Palembang. “Terakhir mereka akan singgah di Medan, ” ucapnya.

Menurut Jimmi Hari Suci Kathina adalah hari suci agama Buddha untuk menunjukkan rasa baktinya kepada Sangha. Ada juga yang menyebut Hari Kathina sebagai hari Sangha.“Jadi mari kita ke vihara untuk berbakti kepada sangha, “ujarnya.

Jimmi mengatakan, kata Kathina berarti pakaian pahala yang diberikan setiap tahun kepada Sangha sesudah pengunduran diri selama Vassa (bahasa Pali) atau varsa (bahasa Sansekerta).

Vassa umumnya dikenal sebagai Bhansa-kala (Thai). Selama Bhansa-kala semua bhikkhu mengundurkan diri khusus untuk diabdikan pada meditasi atau pemeriksaan diri ke tempat yang sepi selama kurang lebih 90 hari. “Kathina merupakan satu ajaran yang harus ditaati oleh para Bhikkhu seperti diterangkan di dalam Vinaya,”terangnya.

Jimmi menceritakan tentang sejarah Khatina pada suatu ketika Sang Buddha berdiam di Vihara Jetavana di kota Sravasti, maka kabar itu tersebarlah kepada sejumlah Bhikshu Aranyaka (dalam naskah Pali dikatakan jumlah bhikshu tersebut 30 orang) dari berbahai tempat pertapaan dan jurusan hutan Pateyya, dan semuanya adalah Arya Sangha. Mereka meninggalkan tempat mereka menuju ke kota Sravasti dengan maksud menghaturkan hormat kepada Sang Buddha.

Mereka berjumpa satu sama lainnya secara kebetulan di jalan dekat kota Saketa yang letaknya kira-kira 60 mil dari Sravasti. Ketika para Bhikshu tersebut tiba di kota Saketa, Bhansa-kala sudah dimulai. Maka terpaksa mereka berdiam di kota Saketa selama lebih kurang 90 hari sesuai dengan peraturan pertapaan yang berlaku.

Setelah 90 hari pengunduran diri itu, hujan tidak henti-hentinya turun dengan derasnya, sehingga tanah dan jalan-jalan tergenang air serta lumpur. Tetapi oleh karena para Bhikshu itu berkeras hendak berangkat selekas mungkin ke kota Sravasti demi menghaturkan sembah sujud mereka kepada Sang Buddha, maka berangkatlah mereka walaupun hujan turun dengan derasnya.

Setiba di Sravasti mereka langsung menuju ke Vihara Jetavana dan menjatuhkan diri mereka memberikan sujud kepada Sang Buddha. Sang Buddha melihat bahwa mereka masih basah kuyub dari kepala hingga jari kaki, pakaian mereka basah dan penuh lumpur. Sang Buddha menanyakan pada mereka apa yang telah terjadi, dan mereka pun menceritakan seluruh kejadian itu.

Sang Buddha bergembira mendengar kebhaktian dan pengabdian mereka, dan memberikan ijin untuk segera menukar pakaian/jubah mereka yang basah kuyub itu. Kemudian Sang Buddha mengeluarkan perintah Kathina agar para anggota Sangha mendapatkan satu pakaian baru setahun sekali setelah kesukaran pada para Bhikshu Aranyaka yang tinggal di hutan. (sep)

LEAVE A REPLY