2016 Tantang Pemerintah Kian Berat

0
583

 

RADAR PALEMBANG – Tahun 2015 segera berakhir, lalu, seperti apa kondisi ekonomi di tahun depan? Sejumlah ekonom Sumsel memperkirakan, tahun depan ekonomi Sumsel masih akan sulit. Pertumbuhan ekonomi pada 2016 hanya 5 – 5,3 persen.

Bila dilihat, angka pertumbuhan ekonomi ini lebih rendah dibandingkan asumsi dalam Anggaran Pendapatan Belanja Ddaerah (APBD) Sumsel 2016 sebesar 6 – 7 persen.

”Dengan memperhitungkan realisasi pertumbuhan ekonomi tahun ini dan berbagai kemungkinan dinamika perekonomian tahun depan, kami memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada 2016 masih dikisaran 5 persen,” kata Ekonom Sumsel, Yan Sulistio, kemarin.

Dikatakanya, secara umum prediksi pertumbuhan ekonomi tersebut menggambarkan kinerja pemerintah yang masih di bawah ekspektasi publik pada tahun depan. Selain itu, hal tersebut merefleksikan tantangan yang semakin berat bagi pemerintah untuk mencapai rata-rata pertumbuhan ekonomi sebesar 7 persen dalam lima tahun seperti yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019.

Menurut Yan, tantangan perekonomian pada tahun depan antara lain adalah pertumbuhan ekonomi mitra dagang utama, khususnya Tiongkok, yang masih lesu. Fundamental ekonomi yang masih rapuh seiring posisi neraca transaksi berjalan yang defisit, hingga ketidakpastian rencana kenaikan the fed yang berpotensi menekan rupiah. ”Dengan demikian, jika paket kebijakan tidak dapat berjalan dengan baik, akan sulit perekonomian dapat mencapai target sesuai yang diharapkan pemerintah,” ujarnya.

Perbanyak Proyek Pembangunan

Sementara itu, pakar ekonomi Universitas Sriwijaya, Didiek Susetyo beranggapan target pertumbuhan ekonomi 2016 yang mencapai 5,5 persen dapat dicapai bila banyaknya proyek pembangunan Sumsel pada tahun mendatang. Namun, diperlukan kerja keras dari berbagai pihak untuk menopang ekonomi

Target pertumbuhan ekonomi Sumsel di atas 5 persen pada tahun 2016 mendatang akan dapat tercapai. Syaratnya, pemerintah harus bekerja keras dalam menggerakkan beberapa sektor pendukung pertumbuhan ekonomi. ” Lima persen masih mungkin, kalau di atas lima persen perlu kerja keras lah,” ujarnya.

Menurut Didiek, sektor manufaktur dan perbankan perlu mendapatkan porsi perhatian yang lebih dari pemerintah. Selain itu, ia juga mengingatkan potensi rupiah yang masih bergerak fluktuatif pada tahun 2016 mendatang antara Rp12.000 hingga Rp14.000. “ Untuk itu, perbankan perlu mendorong sektor produktif agar pergerakan rupiah ini tidak terlalu menjadi masalah bagi perekonomian Sumsel,” terangnya.

Bank Indonesia (BI) Wilayah Sumsel memprediksi pertumbuhan ekonomi pada 2016 sebesar 5,2 -5,5 persen. Perkiraan pertumbuhan ekonomi tersebut mempertimbangkan faktor eksternal terutama kepastian rencana kenaikan the fed dan masih melambatnya pertumbuhan ekonomi Tiongkok ”Kalau dilihat sekarang, ekonomi kita 4,8 persen. Untuk menuju diatas 5 persen itu effort -nya banyak sekali,” kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan, Hamid Ponco Wibowo.

Terkait rencana kenaikan suku bunga acuan oleh The Fed, dia merasa yakin bahwa bank sentral AS itu bakal menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya sejak tujuh tahun lalu pada Desember atau awal tahun 2016 mendatang.

Sementara, melambatnya perekonomian Tiongkok diperkirakan masih akan berlanjut hingga semester I/2016 dan baru akan mulai stabil pada semester II/2016. Perkembangan ekonomi Tiongkok sebagai salah satu negara tujuan ekspor utama Sumsel mempunyai korelasi terhadap harga komoditas yang menjadi andalan Sumsel.

”Dengan melihat ketidakpastian kenaikan suku bunga oleh AS dan stabilisasi Tiongkok, maka kami memprediksi pertumbuhan ekonomi 2016 antara 5,2-5,5 persen,” terangnya, dari sisi domestik, upaya pemerintah melalui debirokratisasi dan deregulasi patut diapresiasi. Jika berjalan dengan optimal, pada tahun depan upaya tersebut diyakini akan membantu mengerek pertumbuhan ekonomi. (tma)

 

LEAVE A REPLY