2015 Tahun Berat, Tapi Bukan Krisis

0
496

 

Oleh: Bambang Brodjonegoro

Menteri Keuangan

Sepanjang periode 2015 adalah sebagai tahun yang cukup berat bagi Indonesia dan banyak negara berkembang lainnya di dunia. Meskipun sebenarnya tidak juga tepat bila dikatakan sebagai krisis ekonomi global. Tahun 2015 ini paling tidak, memang tidak bisa dikatakan sebagai krisis, tapi tahun yang berat dan memang kurang cerah.

Faktornya tidak terlepas dari rencana kenaikan suku bunga acuan oleh Bank Sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed). Rencana tersebut sudah disampaikan sejak 2013 lalu, akan tetapi baru dimungkinkan terealisasi ‎pada pertengahan Desember 2015. Karena soal Fed Fund Rate, itu sudah dari 2013, sudah di-price in di pasar mata uang. Tapi kemungkinan besar baru akan terjadi di Desember.

Selanjutnya adalah masalah ekonomi China. Negeri Tirai Bambu tersebut, sudah tidak lagi mengalami pertumbuhan ekonomi di atas 10persen. Sejak 2012, masa perlambatan sudah tampak, namun paling rendah terjadi di 2015. Mulai ada polanya sejak beberapa tahun lalu, tapi di bawah 6persen baru sekarang, makanya dampaknya paling terasa di sekarang.

Dari sisi harga komoditas, juga semakin memburuk. Khususnya yang bersumber dari sektor perkebunan dan pertambangan, seperti batubara, nikel, tembaga, crude palm oil (CPO) dan lainnya. Begitu juga dengan harga minyak.

Harga komoditas dari 2012, tapi paling rendah baru sekarang. Harga minyak juga sama titik terendahnya itu terjadi di 2015.‎ Jadi tahun 2015 adalah tahun yang kurang cerah dan dampaknya langsung terasa ke perekonomian kita.

Diketahui sampai dengan kuartal III-2015, ekonomi Indonesia hanya tumbuh 4,73persen dan akhir tahun diproyeksi hanya berkisar 4,8persen. Berbeda dibandingkan dengan beberapa tahun lalu yang selalu tumbuh di atas 5persen. (mkl/ang)

LEAVE A REPLY