2.000 Umat Buddha Rayakan Khatina di Vihara Dharmakirti

0
291

RADAR PALEMBANG, RP –  Sekitar 2.000 umat Buddha di Kota Palembang merayakan Hari Suci Khatina di Vihara Dharmakirti Palembang Minggu (3/11).
Ketua Sekretariat Bersama (Sekber) Yayasan Buddhayana Indonesia
(Yabuddhi) Sumatera Selatan Tono Alamsyah melalui Ketua MBI Palembang
Sukartek mengatakan, perayaan diawali ritual Pindapatta pada pukul
06.30 Wib setelah itu pada pukul 07.15 Wib dilakukan puja Khatina dan
Sanghadana serta pukul 13.00 wib upacara Khatina.


“Pada perayaan Khatina  kali ini dihadiri Bhikkhu Nyana Virya Thera,
Bhikkhu Bhadramurti, Bhikkhuni Giriksanti Sthavira, Samanera Suma,
Samaneri Ida dan Samaneri Esli,”katanya
Menurut Sukartek, Hari Suci Kathina adalah hari suci agama Buddha
untuk menunjukkan rasa baktinya kepada Sangha. Ada juga yang menyebut
Hari Kathina sebagai hari Sangha.“Hari Kathina ini dirayakan sekitar
tiga bulan setelah hari raya Asadha,”katanya.
Sukartek mengatakan, kata Kathina berarti pakaian pahala yang
diberikan setiap tahun kepada Sangha sesudah pengunduran diri selama
Vassa (bahasa Pali) atau varsa (bahasa Sansekerta).Vassa umumnya
dikenal sebagai Bhansa-kala (Thai). Selama Bhansa-kala semua bhikkhu
mengundurkan diri khusus untuk diabdikan pada meditasi atau
pemeriksaan diri ke tempat yang sepi selama kurang lebih 90 hari.
“Kathina merupakan satu ajaran yang harus ditaati oleh para Bhikkhu
seperti diterangkan di dalam Vinaya,”terangnya.
Sukartek menceritakan tentang sejarah Khatina pada suatu ketika Sang
Buddha berdiam di Vihara Jetavana di kota Sravasti, maka kabar itu
tersebarlah kepada sejumlah Bhikshu Aranyaka (dalam naskah Pali
dikatakan jumlah bhikshu tersebut 30 orang) dari berbahai tempat
pertapaan dan jurusan hutan Pateyya, dan semuanya adalah Arya Sangha.
Mereka meninggalkan tempat mereka menuju ke kota Sravasti dengan
maksud menghaturkan hormat kepada Sang Buddha.
Mereka berjumpa satu sama lainnya secara kebetulan di jalan dekat kota
Saketa yang letaknya kira-kira 60 mil dari Sravasti. Ketika para
Bhikshu tersebut tiba di kota Saketa, Bhansa-kala sudah dimulai. Maka
terpaksa mereka berdiam di kota Saketa selama lebih kurang 90 hari
sesuai dengan peraturan pertapaan yang berlaku.
Setelah 90 hari pengunduran diri itu, hujan tidak henti-hentinya turun
dengan derasnya, sehingga tanah dan jalan-jalan tergenang air serta
lumpur. Tetapi oleh karena para Bhikshu itu berkeras hendak berangkat
selekas mungkin ke kota Sravasti demi menghaturkan sembah sujud mereka
kepada Sang Buddha, maka berangkatlah mereka walaupun hujan turun
dengan derasnya.
Setiba di Sravasti mereka langsung menuju ke Vihara Jetavana dan
menjatuhkan diri mereka memberikan sujud kepada Sang Buddha. Sang
Buddha melihat bahwa mereka masih basah kuyub dari kepala hingga jari
kaki, pakaian mereka basah dan penuh lumpur. Sang Buddha menanyakan
pada mereka apa yang telah terjadi, dan mereka pun menceritakan
seluruh kejadian itu. Sang Buddha bergembira mendengar kebhaktian dan
pengabdian mereka, dan memberikan ijin untuk segera menukar
pakaian/jubah mereka yang basah kuyub itu. Kemudian Sang Buddha
mengeluarkan perintah Kathina agar para anggota Sangha mendapatkan
satu pakaian baru setahun sekali setelah kesukaran pada para Bhikshu
Aranyaka yang tinggal di hutan. (sep)

 

LEAVE A REPLY